Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2009

DUKA PALESTINAKU, APAKAH DAYAKU ?

Duka Palestinaku, apakah dayaku?
oleh Siti Aisyah Nurmi

Kata saja tak cukup, duka terlalu dalam tapi apa daya? Hanya Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa
Wahai Allah,
Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Bijaksana
Tenangkanah hatiku
Aku sedang gundah Ya Allah,
Hatiku merana, meradang, marah….dengan kedua tangan terikat dan kaki terbelenggu.
Hanya kedua mataku yang terpaku nanar ke layar kaca….menjadi saksi atas kezhaliman suatu bangsa……
Mataku menatap sosok-sosok berdarah di layar kaca
Sosok-sosok yang meregang nyawa ribuan kilometer jauhnya dari tempat dudukku
SubhanAllah……
Wajah-wajah yang dengan tenang meregang nyawa menghadap kamera dunia dengan menyebut namaMu………Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Allahu Akbar……..apa dayaku……..hanya airmata yang ada…
Tapi aku tahu Ya Allah, bahwa Engkau ADA.
Engkau Menyaksikan

Dan Engkau sedang Menguji kami
Kalaulah kami tak faham bahwa Engkau ADA,
Kalaulah kami tak faham bahwa Engkau Maha Perkasa…
Lebih Perkasa dari bom-bom si laknat Ehud Olmert, Tzipi Livni dan Ehud Barak…..
Lebih Perkasa dari kata-kata berbisa dan penuh laknat dari pemimpin Amerika maupun Inggris….
Lebih Perkasa dari retorika PBB dan dunia Arab yang hanya bermain kata……..
Kalaulah kami tak faham itu semua maka mungkin kami hanya dapat menggigit bibir sendiri karena frustrasi dan putus asa

TIDAK
Sekali-kali TIDAK
Kami tak putus asa, sebab putus asa dari RahmatMu adalah celaka
Kami tak mau CELAKA
Sebagaimana mereka yang karena berebut pengaruh dunia telah menjadikan saudara-saudara kami sebagai tumbal mereka.
Sebagaimana pemimpin Mesir akan menjadi yang paling celaka karena mengunci perbatasan dan menawan Gaza dalam neraka bom tanpa suplai apapun.
TIDAK dan sekali lagi TIDAK
Kami tak mau putus asa, sebagaimana mereka yang terzhalimi di GAZA tidak putus asa….
Kami harus MELAWAN….kata mereka….
Kami yang di sini harus membantu
Dengan apapun juga yang mungkin…..meskipun hanya dengan sederet kata-kata di dunia maya
Dan sebait lantunan doa di tengah malam dengan Qunut Nazilah।

BURUNG-BURUNG
Kulihat burung-burung terbang beriringan….
Terbang dari tanah
Tanah yang sedang basah oleh darah para syuhada….
"Ummi, ummi, lihat Mi! tuh benar, burung terbang dari dekat tempat bom jatuh"
….kata anak-anaku saat menonton tayangan Live dari GAZA
Ya Allah….apa artinya itu?
Artinya adalagi yang syahid…
Di bagian bawah layar terpampang angka-angka…145, kemudian berubah 170 dst

MEREKA BUKAN ANGKA!!!!!!!!
Mereka para syahid yang Allah Muliakan tepatnya di Syurga…….
Kami yakin burung-burung itu adalah para penjemput ruh para syuhada
MEREKA BUKAN SEKEDAR ANGKA!
MARAH
Ya ALLAH sabarkanlah kami dan mereka yang sedang didera derita di sana
Di tanah yang kurindukan
Aku rindu mengunjungi Tanah Suci Palestina
Tanah yang sedang bergolak dengan darah dan marah
Kemarahan si angkara murka yang terlaknat
Juga kemarahan kami umat Islam sedunia
Ya, kami dan kalian wahai Yahudi, kit sedang sama-sama marah….
Bedanya, kalian marah karena angkara murka syaithoni kalian sendiri yang kelak akan kalian sesali sepanjang masa di Neraka Allah!
Kami marah di jalan Allah atas kezhaliman dan kebiadaban kalian
Kemarahan kami Insya Allah akan Mendapat Ridho Allah
Sedang kemarahan kalian akan mendapat laknat dan siksa Allah
Allahummanshur mujahidiina fi filistiin……।

WAHAI KAMU
Wahai kamu!
Siapakah kau yang duduk dibaris terdepan dari dosa ini?
Hanya duduk dan menonton musuh membantai saudara-saudaramu
Menyaksikan tumpahnya darah saudara-saudara kita dan anak-anak kita…
Hanya menatap di tapal batas
Seperti anjing
Anjing penjaga dari musuh
Seolah pintu itu milikmu sendiri
Seolah adalah tugasmu untuk memastikan si musuh memuaskan nafsu angkara mereka
Bahkan pitbull lebih baik dari kalian
Kau sebagai anjingnya musuh, dan si musuh sendiri adalah si tuan anjing
Bahkan anjing asli lebih baik dari kalian
Anjing tak makan saudara mereka

HUMAN RIGHTS???
Hak-hak Azazi Manusia?? Siapa yang dimaksud dengan maksud manusia oleh siapa???
PBB (Persatuan Bangsat Bangsat) bilang adalah hak rakyat Israel hidup bebas dari ketakutan di atas tanah penjajahan
Bagaimana dengan rakyat GAZA??????
Mereka tak diangggap punya hak untuk hidup????
Tapal batas dijaga ketat oleh anjing-anjing galak,
Makanan, air, obat, tak boleh lewat kecuali sedikit
Darat, laut dan udara di pagari dengan bom dan tembakan……….
Roket-roket kecil yang buta dijadikan alasan untuk menumpas penduduk Gaza
Mengapa?
Penduduk Gaza adalh pemilik SAH tanah yang dibanjiri roket itu!!!!
Mereka tak punya hak membebaskan sepotong tanah yang dulu milik mereka??????
Lalu siapakah monster-monster ini yang sekarang mendirikan negara pebunuh ini?
Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan satu ideologi
Ideologi yang paing mengerikan di sepanjang sejarah manusia
Ideologi ZIONISME
Ideologi yang tak memberi rung bagi seluruh umat manusia selain mereka untuk hidup!
Bahkan saudara-saudara mereka ummat Yahudi yang menolak ideologi inipun jadi korban!
Siapa yang tahu siapakah Rabbi Yahudi yang terbantai d Mumbai?
Lalu mengapa pasukan rahasia Israel tak membebaskan mereka?
Mereka dikenal paling canggih, paling kuat
Ya, karena Rabbi ini dan keluarganya menolak ZIONISME
Keluarga mereka menolak bendera zionisme di atas keranda para korban!!!!
Orang-orang ini juga dianggap tak punya hak hidup….
Apa gunanya oraganisasi itu???
Persatuan Bangsa Bangsa.
Bangsa mana yang boleh mendapatkan pelayanan paling istimewa dari situ?
Bangsa mana yang TAK PERNAH peduli apapun resolusi dari situ?
Bangsa mana yang selalu dibela oleh anggota tetap Security Counsil?
Mengapa ada hak VETO yang memastikan negara itu selalu dapat apa yang ia mau?
Jawabnya mudah

Ini bukan organisasi yang dapat membela semua bangsa
Tapi organisasi yang khusus untuk membela bangsa yang ini
Bangsa yang lain yang tergabung di sana hanyalah penggembira
Tameng-tameng hidup untuk mengelabui dunia
Bubarkan saja
Tak ada gunanya

Selasa, 23 Desember 2008

Tempat Outbond



TEMPAT-TEMPAT LIBURAN DI JABODETABEK
1। Karavan Vila Apel GardenaLiburan bersama keluarga di alam pegunungan sekaligus bermalam di karavan. Tersedia aneka fasilitas untuk orang dewasa juga anak-anak.Harga sewa per malam Rp. 200 ribu. Untuk hari libur/raya Rp 250.000.Alamat: Vila Apel Gardena Cipanas, Puncak. Telp. (0263)511901- 3, 519856.Fax.(0263)511953.

2. Caldera Ed Venture Program (CEVP)Di sini anak bisa bermain outbound. Biaya Rp 100.000 per anak untuk paket 1 hari. Customer service: Kaki Lintas Katulistiwa, Gd. NaribaPlaza Unit D- 13, JI. Mampang Prapatan Raya No. 39, Jaksel. Telp.(021)79196633. Fax.(021)7919 6644.

3. Kolam Sahabat LautAnak bisa memegang ikan hiu. Harga tiket masuk Rp.12.000 untuk Senin-Jumat dan Rp. 17.000 untuk Sabtu-Minggu dan Hari libur. Alamat: Kolam Sahabat Laut, Sea World Indonesia, Taman Impian JayaAncol, Jl. Lodan Timur No. 7 Jakarta 14430. Telp. (021)641 0080 ext.105. Fax.(021)641 0079.

4. Museum BahariAnak bisa melihat miniatur kapal tradisional Indonesia yang membawa harum nama Bangsa Indonesia, Phinisi Nusantara. Buka dari Selasa-Minggu,tarif masuk Rp. 2.000 untuk umum. Alamat: Museum Bahari, Jl. Pasar Ikan No. 1 Jakarta Utara (Daerah Sunda Kelapa). Telp.(021)6693406.Fax.(021)6690518.

5. Aquatic FantasyArena permainan air khusus anak dengan puluhan jenis permainan. Mereka bisa memanjat, melompat, perang-perangan dalam air, berpetualang,bahkan bertegur sapa dengan dewa laut Neptunus. Tarif masuk Rp 10.000. Alamat: Jl. Raya Muchtar, Sawangan, Depok. Komplek Perumahan Real Estate TelagaGolf. Telp.(021)766 0390, 765 3854. Fax. (021)766 0490.

6. Taman Nasional Gunung HalimunAnak bisa bertualang masuk-keluar hutan, melihat langsung satwa liar, dan bermain di air terjun. Tersedia juga arena kemping dan tempatmenginap. Tiket masuk sekitar Rp. 3.000 untuk anak-anak. Alamat: JI. Raya Cipanas, Kabandungan, Parung Kuda, Sukabumi.Telp.(0266)621256. Fax. (0266)621257.

7. Taman Nasional Gunung Pantjar Selain piknik, anak bisa melakukan kegiatan menjaga kesehatan dan pemulihan kekuatan fisik seperti terapi akupunktur, air panas mineral.Alamat: Taman Nasional Gunung Pantjar, Bogor. Telp. (021)917 32088.

8. Taman Buah MekarsariAnak bisa belajar jadi patani, malah bisa menuai, memakan, serta membawa pulang hasilnya. Biaya Rp. 100.000 per anak. Alamat: Jl. Raya Cileungsi-Jonggol Km.3, Cileungsi, Bogor 16820. Telp.(021)8231811- 13Fax.(021)823 1475.

9. Kebun Wisata PasirmuktiAnak bisa merasakan bagaimana indahnya hidup di alam pedesaan yang sesungguhnya. Biaya paket anak tani Rp. 250.000 untuk 2 hari 1 malam. Alamat: Jl. Raya Tajur Pasirmukti KM 4, Citeureup, Bogor. Telp.(021) 8763564-65.

10. Safari TrekMasih dalam kawasan Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, anak bisa merasakan dirinya menjadi pendaki gunung dan penjelajah alam bebas.Mereka pun bisa bertemu dan saling menyapa langsung dengan Gajah pekerja. Biaya Rp. 15.000 per orang. Alamat: Taman Safari Indonesia,Cisarua, Bogor-Jabar. Telp (0251) 253 222.

11. Kampoeng MaenIni adalah kampungnya anak untuk bermain. Biaya Rp.35.000. Customer Service: Jl. Mampang Prapatan Raya No. 39 Jaksel Telp.(021)7919 6633,Fax: (021)7919 6644.

12. Pusat Primata SchmutzerDi kawasan ini anak bisa melihat secara langsung kenekaragaman hewan primata, termasuk gorila. Tarif masuk mulai Rp. 2000. Alamat: TamanMargasatwa Ragunan, JI.Harsono RM No. 1, Ragunan, Jakarta 12550. Telp. (021)780 6975, 789 0615.Fax. (021)780 5280.

13. Observatorium BosschaTempat wisata ilmiah di mana anak bisa melihat bintang dan rasi/gugusan bintang. Tarif mulai Rp. 5.000. Alamat: Observatorium Bosscha,Departemen Astronomi ITB, Lembang, Bandung 40391. Telp. (022)278 6001LOKASI

OUTBOND / AGROWISATA

1. Kebun Wisata Pasir MuktiLokasi sekitar 45 menit dari Jakarta, bentuknya agriwisata di mana kita bisa memetik buah, belajar menanam macam-macam, memancing, main lumpur,memetik buah, api unggun, poco-poco dan menginap di guest house / cottage. Biaya Rp 250.000/person untuk menginap, termasuk breakfast, lunch dan dinner.Reservation: Jl. Raya Tajur Pasirmukti Km. 4, Citeureup Bogor.Ph:(021)8763564- 65, 7398808; Fax (021)87635662.

2. Citarik One Stop AdventureLokasi di citarik, Lokasi Adventure milik pasangan Lody Korua dan Amalia yunita yang pencinta alam ini memiliki berbagai kegiatan seru dan menarik, di antaranya : Adventure rafting trip, terus ada cottage yang seru-seru (misalnya dibuat dari tenda atau kayu-kayu/tradision ala cottage, pokoknya seperti camping deh), terus ada BBQ, family trecking trip, paintball, adventure offroad trip, terus ada lokasi outdoor experiential education untuk anak-anak yang aman dan seru. pokoknya lokasi ini seru banget terutama untuk anak-anak cowok yang sudah SD ke atas!!!!Biaya: antara Rp 44.000 s/d Rp 350.000, tergantung kegiatan yang dipilih. Reservation: PT Lintas Jeram Nusantara, Graha macula, GroundFloor, Jl. K.H.Abdullah Syafi'ie No. 5 (d/h: Jl. Lapangan Roos Raya) Jakarta 12840. Ph.(021)8355885, 9259230, 0811103397, Fax: 83148343.

3.Tanah Tingal Tempat rekreasi keluarga, anak dan agrowisata dengan fasilitas kolam renang, restaurant (menunya pasundan euy, bisa dipesan dan jadi kegiatan andalan di sini soalnya katanya enak pisan, pondok seni, taman bermain dengan permainan tradisional, kebun pembibitan, peternakan, jalur sepeda, tempat berkemah, pondok menginap serta rumah pohon untuk anak 5 - 15 thn dengan paket sesuai permintaan.Reservation:Jl. Merpati Raya No.32B, Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat 15400,Tanggerang. Ph. 7433131.

4. Agro Wisata Tanaman Obat Terletak di desa Karyasari, Leuwlliang, Bogor,di sini ada 420 jenis tanaman obat, di sana bisa sambil wisata boga, makan makanan sunda! Biaya Rp 75.000,- plus pemandu penjelasan keliling kebun. Jl. Raya Karacak-Cianten KM 10, Desa Karyasari, Leuwiliang, Bogor, telp. 0251-42872438.

5. Program Pulang Kampung desa Cinangneng Letak 1 km dari kampus IPB, Dermaga Jl. Babakan Kemang RT1, RW2, Cihideung, Kec. Ciampea, Bogor. Untuk weekend sama keluarga bisa nyewa 1vila untuk 2 orang Rp 300.000, atau satu bungalow dengan dua kamar,@ Rp 275.000,-termasuk makan 3 kali, sama tour de desa. Tapi yang seru kalau group, min. 20 orang @ Rp 215.000,- Itu termasuk makan 3 kali plus snack 2 kali plus tour de desa, belajar bercocok tanam, belajar main gamelan dan tari sunda, belajar membuat permainan anak desa, memandikan kerbau, main di sungai, malam: ronda desa sambil di jamu di rumah penduduk, api unggun dan makan jagung bakar...seru

6. Doctor Rabbit Science & Adventures Preschool Kadang kalau liburan tempat ini menyediakan camping untuk anak-anak di mana anak bisa bermain di alam terbuka sambil bereksperimen sciencesederhana. Jl. Taman Sari I No. 77, Karang Tengah Lebak Bulus, JakselPh: 7508371 - 76947867.

7. My Playground Jl. Margasatwa No. 16, Pondok Labu, Jakarta. Belajar art (ngelukis dan clay) untuk ngisi waktu libur.

8. Klub DinoRuko Bona Indah A1-A2, Jl. Karang Tengah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Biasanya tiap libur, klub ini buat paket-paket liburan untuk belajarngebatik, potery, ngelukis dan kegiatan-kegiatan art lain!

9. Tempat Keramik WidjayantoJl. Curug Agung No. 1, Tana Baru (Dekat Depok Mulya III). Ph. 737685/86.Di sini juga ada restoran dengan makanan buatan si mbok yang sedap banget, dan anak-anak juga belajar bikin keramik, sementara si ibu-ibu bisa window shopping!!!


10. Kampung PendingWaktu tempuh 3 jam perjalanan dari Jakarta untuk tiba di lokasi. Kantor pengelola wisata pendidikan "Kampung Pending (Pendidikan Lingkungan)" tepatnya berada di Kampung Tenggek, Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin Bogor. Kayaknya cocok buat anak yang sudah agak besar deh.
Alamat Kontak : RMI-Kampung PENDING (c.p. Ratnasari / Uus Rusmiati) Jl.Kp.Tenggek Rt.01/02, Desa Cimande hilir, Kec.Caringin, Kab.Bogor Telepon : 0251-7156062, Fax : 0251-249407

11. Kandank Jurank Dik Doang
Ada banyak fasilitas permainan outbond, flying fox, menggapai tali, bambu rintang, jembatan bambu V/H, tangga monyet , labirin, perahu monyet dll.
Lokasi dekat dengan BSD/Ciputat (dekat kantor kelurahan Sawah Lama) .Untuk informasi 0219146523/08129645607

Kamis, 18 Desember 2008

Quo Vadis Madrasah ?

"Quo Vadis" Madrasah Oleh ROHMAT MULYANA

MADRASAH (baca: MI, MTs।, MA) adalah lembaga pendidikan formal yang merepresentasikan komitmen umat Islam Indonesia dalam bidang pendidikan. Eksistensi madrasah diakui sebagai bagian sistem pendidikan nasional yang tidak dibedakan dari lembaga pendidikan umum sejenis sebagaimana diatur pasal 17 dan 18 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pengakuan yuridis itu menjadi modal potensial bagi peningkatan peran madrasah dalam upaya pembangunan sektor pendidikan yang berkeadilan.
Dewasa ini, terdapat 5,9 juta anak yang sedang belajar di bangku madrasah. Mayoritas (85,2%) dari mereka berlatar kehidupan keluarga miskin dan kurang beruntung sehingga 10% dari jumlah tersebut mengalami putus sekolah (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2005-2006). Anak-anak dari kaum miskin itu adalah warga negara Indonesia asli yang nasibnya kurang beruntung. Mereka memiliki kapasitas otak yang sama dengan anak-anak yang lebih beruntung, tetapi ruang memori dan sensitivitas syaraf otak mereka terhadap pengetahuan masih belum banyak diberdayakan.
Genealogi madrasah memang lahir dari masyarakat pinggiran yang kemudian menjadi ciri identitas historis yang sulit dipisahkan dari dinamika madrasah dewasa ini. Kenyataan bahwa lebih dari 70% madrasah berada di perdesaan dapat menjadi gambaran betapa faktor geografis menjadi penghambat akses pendidikan bermutu bagi mayoritas siswa madrasah.
Selain itu, populasi madrasah swasta yang mencapai 91,4% tidak hanya dapat dimaknai dari besarnya peran masyarakat sebagai sesuatu yang mengagumkan, tetapi juga perlu dilihat dari dampak efek domino status tersebut। Madrasah swasta di negeri ini masih sulit diidentikan dengan jaminan kualitas, walaupun sejumlah kecil berhasil menegasikan diri dari kenyataan ini dan tampil sebagai lembaga kompetitif.

Anatomi persoalan
Madrasah, sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya, dihadapkan pada sejumlah persoalan yang tidak mudah dipecahkan. Persoalan itu menyangkut masalah klasik seperti kelemahan infrastruktur, sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan, kualitas calon siswa, kurikulum, proses pembelajaran, dan manajemen kelembagaan. Masalah tersebut sebenarnya dilatarbelakangi oleh kondisi awal yang melibatkan banyak aspek.
Pendirian madrasah swasta, misalnya, seringkali kurang mempertimbangkan pemenuhan aspek mutu pelayanan pendidikan. Patron individual atau kelompok yang mendirikan madrasah kurang memperhitungkan risiko-risiko yang akan muncul kemudian. Inisiatif semacam ini memang layak diapresiasi, tetapi kenyataan bahwa sulitnya upaya peningkatan mutu madrasah lebih banyak diakibatkan oleh sejumlah variabel kelemahan, terutama pada madrasah berstatus swasta.
Dari sisi pengembangan kurikulum, tampaknya madrasah masih akan terus dihadapkan pada dilema dikotomi keilmuan. Madrasah menghadapi dua pilihan sulit antara dua kebutuhan yang berbeda selama rekonstruksi dan sistematisasi tujuan metafisik pendidikan Islam belum terumuskan dengan baik.
Di satu sisi, lembaga ini dituntut untuk meningkatkan pemahaman ilmu agama dan pengamalan ajaran Islam, namun di sisi lain ia harus mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi kebutuhan hidup yang tidak semuanya dapat dipecahkan dengan ilmu agama.
Persaingan antara lembaga pendidikan juga menjadi persoalan yang dihadapi madrasah ketika kompetisi itu dilandasi pertarungan identitas. Pertarungan identitas berlaku pada disparitas sekolah umum dengan madrasah, negeri dengan swasta, afiliasi dengan nonafiliasi, dan simpul-simpul pembeda lainnya. Bahkan kepentingan identitas ironisnya dapat terjadi pada tataran kebijakan departemen yang sama-sama mengelola pendidikan.
Persoalan demikian berimbas pada kurang proporsionalnya perhatian terhadap madrasah dan madrasah swasta acapkali menjadi victim atas perhelatan berbagai kepentingan.
Ikatan emosional masyarakat terhadap madrasah juga perlu diperjuangkan। Kini, ada kecenderungan bahwa ikatan emosional terhadap madrasah semakin luntur seiring dengan menguatnya pertimbangan rasional dalam menentukan preferensi pendidikan bagi anak. Oleh karena itu, anggapan lama yang selalu mengedepankan kuatnya ikatan emosional terhadap madrasah boleh jadi hanyalah sebuah romantisme karena dalam kenyataannya madrasah dihadapkan pada tantangan yang makin sulit dalam merebut simpati masyarakat luas, terlebih pada masyarakat perkotaan.


Kebijakan dan anggaran
Mengatasi celah antara kemestian dan kenyataan, Dirjen Pendidikan Islam semasa Jahja Umar lebih banyak menggunakan logika kebijakan afirmatif (affirmative policy) yang berpihak pada kaum miskin dan swasta. Kebijakan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk beasiswa siswa miskin, beasiswa kuliah S-1 bagi santri/siswa miskin, tunjangan guru non-PNS, dan bantuan bagi madrasah swasta.
Kebijakan tersebut sebenarnya sudah tepat, tetapi anggaran bidang pendidikan untuk tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dirjen Pendidikan Islam tahun 2007 senilai Rp 7 triliun tampaknya belum cukup untuk mengubah tradisi bantuan "hujan gerimis" menjadi bantuan "hujan lebat" kepada madrasah.
Logikanya sederhana. Angka sebesar itu diperuntukkan bagi banyak komponen pendidikan seperti gaji guru dan tenaga kependidikan, dana BOS, BKM, BOS buku, anggaran tupoksi 4 direktorat Depag pusat dan bidang Mapenda serta Pontren di 32 Kanwil Depag Provinsi.
Dapat dibayangkan, jika 57,1% dari anggaran sebesar itu digunakan untuk gaji guru dan 25,7% untuk program BOS, dana yang dikelola untuk tupoksi Dirjen Pendis di tingkat pusat dan daerah hanya 17,1% atau sekitar Rp 1,2 triliun, suatu jumlah yang tidak besar untuk melayani semua kebutuhan pendidikan Islam formal, nonformal, PAI di sekolah umum, dan pendidikan tinggi Islam.
Keterbatasan anggaran tampaknya menjadi salah satu penyebab sulitnya Depag mengurus madrasah. Karena itu, kebijakan pemberian bantuan kepada madrasah hanya mampu mengubah kebijakan "hujan gerimis" menjadi "hujan lebat yang dilokalisasi" melalui sejumlah bantuan kompetitif seperti bantuan kontrak prestasi dan bantuan operasional manajemen mutu (BOMM). Cara ini tampaknya dianggap lebih tepat ketimbang "kue" APBN itu dibagikan rata kepada sasaran banyak dengan jumlah yang sangat kecil.
Saat ini, anggaran pendidikan Islam di Depag diprediksi 20% dari anggaran pendidikan di Depdiknas (bukan dari APBN)। Namun, dengan proporsi itu masih dirasakan terlalu kecil untuk mendongkrak mutu pendidikan di madrasah yang notabene --meminjam istilah Maslow-- masih dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan dasar. Sarana, prasarana, kualitas guru, input siswa, dan proses pembelajaran yang memprihatinkan menjadi problema klasik madrasah yang menjadi pekerjaan rumah Direktorat Jenderal Pendis pada masa mendatang.


Strategi jalan keluar
Untuk mengatasi madrasah agar tidak termarjinalkan dari konstelasi dinamika pendidikan nasional, kiranya ada beberapa cara yang dapat dilakukan.
Pertama, Depag perlu mengupayakan strategi yang lebih tepat untuk pembangunan tiga pilar kebijakan sebagaimana diterakan dalam rencana strategi (renstra) pendidikan Depag (juga dalam renstra Depdiknas). Tiga pilar dimaksud adalah pemerataan, kualitas, dan tata kelola pendidikan.
Tiga pilar itu perlu secara konsisten dan berpihak pada kaum marjinal. Dengan kata lain, kebijakan afirmatif yang berlaku selama ini perlu diperkuat agar muara kebijakan pendidikan semakin berpihak pada kaum miskin dan madrasah swasta.
Kedua, Depag dan Depdiknas perlu bersinergi agar kebijakan pendidikan tidak melahirkan ekses yang tidak diharapkan. Kebijakan yang terkait dengan peningkatan kualitas guru, kurikulum pendidikan, bantuan infrastruktur, buku ajar, dan kebijakan inovatif lainnya perlu dilakukan dalam koridor koordinasi antardepartemen.
Secara sistemik, koordinasi ini dapat dituangkan dalam renstra pendidikan bersama sehingga implementasi pendidikan semakin menampakkan keadilan proporsional.
Ketiga, pemda (provinsi, kabupaten/kota) perlu memberikan pelayanan berkeadilan dalam membagi "kue" APBD untuk sektor pendidikan. Masalah perbedaan kebijakan makro pendidikan antara Depag (sentralisasi) dan Depdiknas (desentralisasi) dapat diselesaikan melalui kearifan pemegang kebijakan di tingkat lokal. Madrasah harus disertakan dalam segala klausul perda pendidikan agar lebih berkeadilan.
Keempat, bantuan luar negeri baik hibah (grant) maupun pinjaman (loan) perlu lebih ditekankan pada sasaran masyarakat madrasah. Seringkali bantuan internasional hanya memandang madrasah sebagai pelengkap program. Padahal hakikat bantuan adalah untuk pihak yang benar-benar membutuhkan, seperti kondisi madrasah saat ini.
Karena itu, selama bantuan luar negeri seperti bantuan dari WB, AusAID, USAID, ADB, JICA, JBIC, dan sebagainya belum mengutamakan bantuan bagi madrasah, dapat dikatakan mereka belum sepenuhnya pro-poor.
Kelima, masyarakat perlu secara proaktif memajukan madrasah. Apabila sebuah keluarga menyekolahkan anaknya ke sekolah umum, mereka perlu menyisihkan penghasilannya untuk membantu madrasah. Cara ini diyakini dapat melahirkan kepedulian sosial yang pada gilirannya dapat membantu daya tahan dan kemajuan madrasah pada masa mendatang. Tanpa peran serta masyarakat, madrasah akan sulit bersaing dengan waktu untuk mengejar ketertinggalannya.
Risalah ini tidak dimaksudkan untuk membuat stigmasi negatif terhadap madrasah ataupun menjadi sebuah moratorium total terhadap kebijakan Depag, melainkan sebagai refleksi kristis terhadap nasib madrasah yang masih membutuhkan peran serta semua pihak.
Lebih dari itu, apa yang diuraikan di atas dapat dijadikan pelajaran (`ibrah) agar pengakuan de jure sebagaimana diamanatkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dapat dibuktikan secara de facto melalui upaya pelibatan semua pihak. ***
Penulis, dosen UIN Bandung, pemerhati sosial pendidikan.

Berharap Madrasah Bertaraf Internasional


Berharap Madrasah Bertaraf Internasional

Oleh TATANG IBRAHIM


Pengertian sekolah bertaraf internasional (SBI) setingkat SMA/MA adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didik berbasis standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia berkualitas internasional.
LULUSANNYA dapat diterima di sekolah mana pun di dunia yang kualitasnya sama, tanpa harus dites terlebih dahulu. Dengan kata lain mampu berdaya saing secara internasional.
Rumusan mengenai SBI dapat dituliskan, SBI = (SNP + X), di mana SBI = sekolah berstandar internasional, SNP = standar nasional pendidikan yang meliputi 8 (delapan) standar nasional, dan X = pendalaman, perluasan, dan pengembangan dari SNP untuk menghasilkan lulusan bertaraf internasional. Kurikulumnya menggunakan kurikulum nasional sebagai dasar, tetapi dapat diperkaya dengan kurikulum lain, selama tidak bertentangan dengan falsafah negara kita.
Dalam Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN, 20/2003) dinyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
Berdasarkan pemetaan hingga saat ini, Depdiknas belum menetapkan satu pun SMA yang sudah bertaraf internasional. Yang baru dilakukan sebatas penetapan tahap rintisan sebanyak 199 buah (SMAN = 167 buah, dan SMA swasta = 32 buah) dari sejumlah SMA setanah air. Begitu pula Departemen Agama (Depag) belum menetapkan MA mana yang akan dijadikan tahap rintisan Madrasah Bertaraf Internsional (MBI).
Namun demikian, searah dengan perkembangan tersebut, Depag berupaya melakukan pembaruan dan pengembangan menuju Madrasah Bertaraf Internsional (MBI) yang salah satu prasyaratnya adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional bagi kepala madrasah dan guru-guru pengajar matematika dan sains.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Depag telah melakukan langkah strategis bekerja sama dengan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan mengadakan MoU dengan pemerintah Malaysia. Indonesia mengirimkan kepala-kepala MA belajar di Universitas Sains Malaysia (USM) selama 2 bulan, (gelombang I dari 3 September - November 2007 berjumlah 34 orang, dan gelombang II, dari 3 Januari - 3 Maret 2008 berjumlah 26 orang). Jumlah peserta seluruhnya 60 orang.
Mereka belajar manajemen pengelolaan MBI dan belajar bahasa Inggris secara intensif. Tujuannya, agar para kepala MA di samping memiliki kemampuan manajerial MBI, juga mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan pihak luar (luar negeri). Tanpa kemampuan itu, sulit bagi lembaga sekelas MBI dalam mengembangkan jaringannya dengan pihak ketiga. Bagi kalangan madrasah, bisa digandengkan dengan kemampuan bahasa Arab. Ini akan membuka peluang lebih luas ke negara- negara petro dolar di Timur Tengah
Rencana Depag selanjutnya adalah dari peserta yang ke Malaysia ini akan diseleksi (terutama kemampuan berbahasa Inggris) untuk dikirim ke Australia magang di sekolah-sekolah lokal, dengan penempatan satu kelas 2 orang guru. Yang telah disepakati pihak Australia berjumlah 30 orang yang pelaksanaannya akan diatur kemudian.
Program ini merupakan langkah maju guna menjawab tuntutan globalisasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu serta untuk membangun citra madrasah yang semakin bergengsi.
Peluang ini tentunya merupakan angin segar bagi kalangan madrasah di tanah air. Sayang, bila dilewatkan begitu saja. Dukungan dari berbagai pihak yang terkait sangat diperlukan, khususnya pemda setempat dalam menyokong terbentuknya MBI. ***
PENULIS, , peserta Program Pengembangan Wawasan Kepala Madrasah di USM Malaysia.

Mengapa Madrasah Dimarginalisasi


Mengapa Madrasah Dimarginalisasi
Oleh H Akhiruddin, Lc

Konsep Cerdas yang berhasil merehab ratusan fisik gedung sekolah dasar negeri di Kabupaten Deli Serdang, secara jujur penulis akui sangat bermanfaat dalam membangkitkan semangat belajar kepada para peserta didik dan guru yang mengajar dengan tercerahkannya fisik bangunan tempat terjadi proses belajar mengajar. Meski demikian, menurut penulis realisasi konsep Cerdas dalam meningkatkan potret kualitas pendidikan yang berkualitas sesuai amanah pendidikan nasional Indonesia dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) nomor 20 tahun 2003.
Tulisan ini mencoba mengkritisi kebijakan konsep Cerdas Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan ke arah yang konstruktif (membangun) terkait dengan keadilan perhatian terhadap institusi lembaga pendidikan agama 'madrasah' yang terabaikan meski eksistensi lembaga madrasah sangat berperan dan urgensif dalam melahirkan generasi-generasi berakhlak karimah (akhlak mulia) dan ke depan sangat ideal untuk memimpin Deli Serdang ke arah yang lebih baik.
Termarginalkan
Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama yang dalam sejarah sangat konsisten melahirkan intelektual intelektual bermoral karena nilai-nilai keagamaan sangat subur dalam sistem pendidikan yang juga media perjuangan untuk mempertahankan ajaran-ajaran Islam secara fundamental (mendasar). Seharusnya proses pembelajaran dan pendidikan yang dianut sistem madrasah perlu dilestarikan dan dikembangkan dengan memberikan porsi perhatian yang seimbang mengingat peranannya yang sangat krusial. Di Kabupaten Deli Serdang, keberadaan madrasah seakan termarginalkan (tercampakkan) dari kebijakan pemerintah setempat dalam pengembangannya yang tidak tersentuh sedikitpun dari orientasi konsep 'Cerdas' yang menurut penulis perlu kembali dicerdaskan agar lebih komperhensif dalam membangun dunia pendidikan khususnya meningkatkan iptek maupun imtaq. Tidak masuknya madrasah dalam konsep 'Cerdas' merupakan pengingkaran terhadap UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 Bab III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal 4) disebutkan, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan , nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1).
Kemudian pada pasal 11 ayat 1 disebutkan pula, 'Pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara tanpa diskriminasi. Merujuk kepada ketentuan di atas, seharusnya madrasah juga harus menjadi bagian realisasi konsep 'Cerdas' Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan guna memacu peningkatan potret kualitas dan kuantitas pendidikan khususnya tingkat SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Alangkah naifnya bila madrasah, lembaga pendidikan Islam sebagai 'dapur' utama menciptakan dan melahirkan generasi berakhlak karimah yang menjadi pondasi kemajuan bangsa tidak mendapatkan perhatian dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan yang jelas-jelas memiliki hak untuk diperlakukan sama tanpa diskriminasi (perbedaan) sebagaimana termaktub dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003.
Sangat terasa manis dan fantastis visi Bupati Drs Amri Tambunan dalam memetakan target pembangunan di Deli Serdang sebagai kabupaten ' yang maju dan mandiri dengan masyarakatnya yang sejahtera , religius dan bersatu dalam kebhinekaan melalui pemerataan pembangunan, pemanfaatan sumber daya yang adil dan penegakkan hukum yang ditopang oleh tata pemerintahan yang baik'. Visi di atas secara konseptual sangat baik, Namun bila semua hanya sebatas konsep tanpa diringi dengan realisasi konkrit di lapangan, nilainya tetap nol dan tidak berharga. Apalah artinya kita menanam pohon jeruk bila akhirnya tidak berbuah ? Artinya, realisasi sebagai manifestasi dari visi yang menjadi komitmen pembangunan harus ada dan bukan sekedar teori.
Peranan Madrasah
Ada hal yang menarik penggalan dari visi Bupati Deli Serdang di atas yang ingin menjadikan kabupaten ini sebagai daerah yang religius. Dari kacamata Islam, menjadikan daerah yang relegius merupakan kewajiban setiap muslim sehingga setiap desah nafas, tutur kata, langkah dan semua aktifitas seorang muslim kental dengan nuansa religius.
Peranan madrasah untuk menjadikan daerah ini sebagai kabupaten religius sangat jelas. Lembaga pendidikan Islam ini menawarkan konsep pendidikan prinsipil (paling dasar) terhadap pemahaman tentang ajaran Islam yang mewajibkan semua umatnya berakhlak mulia. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa misi pertama dirinya diutus ke dunia yakni memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia dan wadah interpretasinya (tafsiran) adalah madrasah.
Ketika peranan madrasah dimarginalkan, bisa dipastikan implikasi (dampak) negatifnya akan menjadi 'wabah' yang merusak sendi-sendi kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai konsekuensi tidak kuatnya atau melemahnya peranan madrasah sehingga terjadi dekadensi (keterpurukan) moral bangsa kita karena dipimpin dan dihuni orang-orang yang tidak berakhlak mulia. Karena itu, di dalam pemahaman literatur Islam disebutkan bahwa adab (akhlak yang baik) kedudukannya lebih ketimbang ilmu. Fakta menjawab dengan jelas, karena tidak amanahnya para pemimpin bangsa Indonesia dalam memandu negara ini, kehancuran dan bencana menjadi bagian dari pemandangan mata kita setiap hari bahkan mungkin pernah kita rasakan. Karena itu, sudah saatnya Bupati Deli Serdang Drs Amri Tambunan memberikan porsi perhatiannya terhadap lembaga pendidikan madrasah di daerah yang dipimpinnya untuk menghidupkan kembali peranannya agar bisa menjadi kabupaten religius.
Beberapa paradigma 'basi' namun tetap relevan sepanjang masa yang harus menjadi prioritas yakni, memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi membangun secara bersama-sama, memformulasikan sistem pembinaan yang lebih strategis, meningkatkan kesejahteraan para gurunya serta memback up program ini menjadi 'Gerakan Membangun Madrasah' lewat dukungan dana APBD Kabupaten Deli Serdang sebagaimana aplikasi konsep Cerdas dan GDSM sekaligus memenuhi tuntutan amanah UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Gerakan Membangun Madrasah tidak saja akan meningkatkan kualitas pendidikan agama sebagai pondasi utama khususnya umat Islam di Kabupaten Deli Serdang yang memiliki korelasi penting dengan visi yang diusung, melainkan akan membawa perubahan baru perwajahan pembangunan karena meletakkan asas pembangunannya berakar pada akhlak mulia.

Rabu, 03 Desember 2008

Membaca & Memaknai Perpustakaan Bagi Madrasah


MEMBACA DAN MEMAKNAI PERPUSTAKAAN BAGI MADRASAH
Oleh: Muktasim, S.Pd.I
STAI AI-Aziziyah Samalanga Kab. Bireuen

Perintah membaca merupakan instruksi pertama dan utama yang diterima Rasulullah sebagai utusan Allah SWT kepada umat. Perintah membaca ini tersirat secara literal dalam Al-Qur'an Surat Al'Alaq ayat 1-5. "Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang telah Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". Dari surat pertama turun sebagai tonggak sejarah bagi perintah kerasulan Rasulullah, membaca merupakan pesan besar yang dibawa Rasulullah kepada umatnya. Dalam konteks ini membaca menjadi tanggung jawab yang harus direalisasikan oleh umat manusia, apalagi yang mengakui akan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah SWT menjadi rahmatan lil 'alamin, yang membawa misi ketauhidan dan pesan-pesan kehidupan untuk kemaslahatan manusia.

Kemampuan membaca, menulis dan berhitung dalam dunia pendidikan termasuk modal dasar yang harus diwariskan guru bagi anak didiknya. Dengan modal membaca yang sudah dimiliki oleh seorang anak akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kompetensi lainnya dalam proses pembelajaran. Namun tanpa kemampuan membaca dan menulis, juga berhitung merupakan penyesalan besar --kalau memang disesali-- bagi seorang guru yang sudah sekian lama --bahkan puluhan tahun-- di-guru-kan. Karena bukan hal yang mustahil di lapangan tercium masih banyak kasus-kasus anak-anak kelas 4 bahkan ke atas di sebuah satuan pendidikan (baca: madrasah), belum mampu membaca. Siapa yang harus disalahkan? Anak-anak ... , guru ... , orang tua .... , atau faktor lain yang menjadi penyebab.

Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya bahan bacaan untuk dibaca sehingga menyebabkan anak didik kurang kalau tidak dikatakan tidak sama sekali mampu membaca. Di sinilah posisi perpustakaan di sebuah satuan pendidikan adalah hal yang sangat mendesak keberadaannya (dibina dan/atau dikembangkan) sebagai salah satu sumber belajar. Dan luar biasa kalau sebuah madrasah, dimana perpustakaan diberdayakan dengan maksimal, tenaga pustakawan difungsikan optimal dan layanan dibuka 24 jam seperti di Negeri Matahari Terbit (Santunan Edisi 2-Maret 2008)
Memaknai Perpustakaan.

Kata perpustakaan berasal dari pustaka yang berarti kitab; buku. Ditambah awalan per dan akhiran an menjadi perpustakaan yang berarti kumpulan buku-buku bacaan.(WJS Poerwarminta: 1987). Ibrahim Bafadal menyatakan perpustakaan adalah suatu unit lembaga dari suatu unit lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa bukan buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh pemakainya. (Ibrahim Bafadal: 1992). Ibnu Ahmad Shaleh mengatakan bahwa perpustakaan ialah: tempat pengumpulan atau kumpulan pustaka yang diatur dan disusun dengan sistem tertentu, sehingga sewaktu-waktu diperlukan dapat diketemukan dengan mudah dan cepat. (Ibnu Ahmad Sale: 1987). Soeatminah perpustakaan adalah lembaga yang menghimpun pustaka dan menyediakan sarana bagi orang yang memanfaatkan koleksi tersebut. (Soatminah: 1992) Sementara menurut Darmodo, perpustakaan merupakan salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan dan mengelola dan memberikan layanan bahan pustaka, baik buku maupun nonbuku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. (Darmono: 1992).
Sedangkan perpustakaan menurut Keppres. No. 11 Tahun 1989, mendefinisikan bahwa perpustakaan ialah salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional. (Mudjito: 1992).

Dari pengertian-pengertian diatas ada beberapa poin yang perlu digarisbawahi: Pertama, perpustakan menjadi tempat terkumpulnya bahan bacaan. Kedua, keberadaan perpustakaan menjadi sumber belajar/membaca siswa. Ketiga, perpustakaan harus dikelola dengan baik sesuai dengan standar yang diharapkan. Keempat, koleksi perpustakaan akan dimanfaatkan (dibaca) oleh pemakainya. Kelima, perpustakaan harus punya tujuan mencerdaskan anak bangsa. Ini semua merupakan makna kecil dari sebuah perpustakaan. Dan jauh lebih dari itu kalau keberadaan perpustakaan mendapat sentuhan tenaga profesional yang mampu dan punya kompetensi tentang library science, tentu perpustakaan akan berkembang dan terus berkembang dari waktu ke waktu.
Memfungsikan Perpustakaan sebagai Sumber Belajar

Keberadaan sebuah perpustakaan di salah sebuah satuan pendidikan dan menempatkan dirinya menjadi sumber belajar adalah dengan memfungsikan perpustakaan dengan optimal. Secara umum ada beberapa fungsi dari keberadaan perpustakaan:

Pertama, fungsi pendidikan (edukatif), dalam hal ini perpustakaan menyediakan buku-buku, baik fiksi maupun non fiksi, dimana dengan buku-buku tersebut dapat membiasakan pemakainya belajar secara mandiri tanpa ada yang membimbing, baik secara individual maupun secara berkelompok. Semua itu akan menjadi bahan pendidikan bagi pemakai perpustakaan.
Dengan demikian melalui fungsi ini manfaat yang diperoleh siswa antara lain sebagai berikut :

1). mendapat kesempatan mendidik diri sendiri secara berkesinambungan;
2). untuk mengembangkan minat akademik siswa yaitu mempertinggi kreatifitas dan kegiatan intelektual;
3). Mendorong kecepatan untuk memecahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan belajar-mengajar serta masalah-masalah lainnya yang dihadapi siswa;
4). mempertinggi sikap sosial dan menciptakan masyarakat yang demokratis;
5). mempercepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru. Soejono Trimo, seorang pakar dalam dunia perpustakaan menyatakan perpustakaan tidak boleh sekali-kali menjadi gudang buku melulu ataupun merangkap sebagai ruang belajar. Tetapi harus sebagai jantung dari semua program pendidikan.

Kedua, fungsi informatif, artinya perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka berupa buku-buku tetapi juga menyediakan bahan-bahan yang bukan
buku seperti majalah, buletin, surat kabar, kliping, peta, bahkan dilengkapi juga dengan alat-alat audio visual seperti micro film, video, tape recorder, komputer, disket, cd-rom dan sebagainya. Semua ini akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan pemakainya. Oleh karena itu perpustakaan memiliki fungsi informatif. Melalui fungsi ini pemakai dapat memanfaatkan untuk: 1). mengambil berbagai Ide dari buku yang ditulis oleh para ahli dari berbagai ilmu; 2). menumbuhkan rasa percaya diri dan dapat menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih informasi yang layak dan sesuai kebutuhan; 3). memperoleh kesempatan untuk mendapat berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan; 4). memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, fungsi dokumentasi, dalam konteks ini perpustakaan harus dapat difungsikan sebagai pusat pengumpulan dan penyimpanan bagi semua penerbitan dari dan tentang daerahnya ataupun dalam bidang ilmu pengetahuan, disamping menjadi bahan riset yang dilakukan guru dan pihak lain yang berkepentingan. Madrasah yang memiliki guru yang banyak melahirkan berbagai buku dan bahan pendukung pembelajaran, anak didiknya yang sudah menghasikan berbagai karya, perpustakaan adalah wadah tampungan semua koleksinya untuk dimanfaatkan generasi ke depan.

Keempat, fungsi hiburan (rekreatif), dalam hal ini perpustakaan menyediakan buku-buku atau bahan-bahan lainnya yang bersifat hiburan yang bermutu, sebagai pengisi waktu luang. Dengan buku jenis ini diharapkan dapat melahirkan ide-ide baru dalam mengubah pola hidup dan tata cara kehidupan. Dengan demikian perpustakaan dapat: 1). menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani; 2). mengembangkan minat rekreasi pemakai melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang; 3). menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif.

Kelima, fungsi administratif, di sini tercermin dari rutinitas kerja perpustakaan, dimana setiap ada peminjaman dan pengembalian buku selalu dicatat oleh pustakawan. Juga menyangkut tentang sanksi-sanksi yang diberikan kepada pemakai yang melanggar dan melangkahi tata tertib perpustakaan. Ini jelas mendidik pemakai ke arah tangggungjawab dan membiasakan bersikap dan bertindak secara administratif. Di samping itu fungsi administratif juga menyangkut pekerjaan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan pustakan serta penyelenggaraan sirkulasi yang praktis. Bagi perpustakaan sekolah/madrasah fungsi-fungsi tersebut dapat disederhanakan dalam bentuk seperti berikut: 1). Sebagai suatu unit yang menunjang suata program dan kegiatan kurikulum. 2). Sebagai suatu unit yang bersifat laboratorium untu menigkatkan wawasan pengetahuan dan keterampilan bagi anak didik, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. 3). Sebagai suatu unit yang bersifat rekreatif bagi murid dan guru. 4). Sebagai suatu unit yang bersifat setengah resmi bagi pertemuan guru dalam meningkatkan pengetahuan dan pertukaran pengalaman. 5). Sebagai suatu unit tempat pembinaan kegemaran membaca bagi anak didik, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. 6). Sebagai tempat pengumpulan dan penyimpanan bahan-bahan material seperti: film, proyektor, gambar dan sebagainya.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0103/1981 tanggal 11 Maret 1981, fungsi perpustakaan madrasah adalah: 1). Sebagai tujuan kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang tercantum kurikulum madrasah. 2). Sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa dapat mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya. 3). Sebagai pusat membaca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi dan mengisi waktu luang.

Dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu ditegaskan pula tentang tujuan Perpustakaan Madrasah yang membedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum perpustakaan adalah untuk memberikan kelengkapan sarana belajar berupa bahan cetak dan bahan rekam untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan tujuan khusus perpustakaan madrasah adalah : 1). Meletakkan dasar untuk belajar mandiri. 2). Memupuk minat dan bakat pada umumnya dan minat baca pada khususnya. 3). Mendidik siswa unutk memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara efektif dan efisien. 4). Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah atas usaha dan tanggung jawab sendiri. 5). Mengembangkan penghargaan pada pengalaman imajinatif, dan. 6). Menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.

Kebijakan sebagai solusi pemecahan

Paradigma baru manajemen pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas secara efektif dan efisien, perlu didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Tanpa itu jauh panggang dari api, pendidikan Cuma nampak jalan santai saja (baca: jalan ditempat tidak ada perkembangan dan kemajuan). Kepala madrasah pada satuan pendidikan merupakan sumber daya manusia utama yang harus diberdayakan, karena berdasarkan paradigma pendidikan ---yang memberikan kewenangan luas kepada kepala madrasah/sekolah dalam mengembangkan berbagai potensinya----- memerlukan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagai manajerialnya, agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi yang diemban sekolah/madrasahnya.
Dalam konteks ini kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti diungkapkan Supriadi dalam Dasar-dasar Administrasi Pendidikan: 1998, "erat hubungan antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolah, iklim budaya sekolah, dan menurunnya perilaku nakal peserta didik”. PP No. 28 Tahun 1990, kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Di sini kepala sekolah harus memiliki visi, misi dan strategi manajemen pendidikan secara utuh dan berorientasi kepada mutu, yang lebih dikenal dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) atau dalam dunia bisnis dikenal dengan total quality management (TOM). Jadi ini adalah jawaban strategi manajemen yang harus dikedepankan oleh kepala madrasah/sekolah. Dimana strategi ini merupakan usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus menerus memperbaiki kualitas layanan, sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan dalam hal ini peserta didik (need assessment), orang tua peserta didik, pemakai lulusan, guru, karyawan, pemerintah dan masyarakat.
Konsekuensi bagi kepala sekolah sesuai dengan problematika di atas, sejauh mana dapat memberikan makna konkrit akan pentingnya perpustakaan di suatu madrasah. Tanpa adanya nawaitu, kebijakan dan tindakan nyata dari seorang manager (baca: kepala madrasah) terhadap pemecahan persoalan, tak ada harapan perubahan akan terjadi. Kapan lagi mau bangun dari keterpurukan, selagi kesempatan ada di tangan dan memanfaatkannya dengan optimal.
PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN
Oleh:Naguruddin,S.Ag(GuruMTsNUnggulSusoh)

Tengah malam gelap gulita. Kota Madinah tengah tidur berselimutkan kesunyian. Langkah-langkah sang raja menjelajah seantaro negri. Khalifah Umar bin Khattab mencari tahu keadaan rakyatnya. Rasa penat menyerang tulang-tulangnya yang tua. Membuat tubuhnya tersandar beristirahat di gubuk tua di penghujung desa.
Di tengah- tengah keheningan malam, terdengar sayup-sayup suara ibu bersama putrinya.
“Wahai putriku, ambillah susu itu dan campurilah ia dengan air biasa.”
Putrinya menjawab: “ Wahai ibu, apakah ibu tidak tahu keputusan yang diambil Amirul Mukminin saat ini?”
“Apakah gerangan keputusannya yang diambilnya itu, wahai putriku? tanya sang ibu.
“Dia memerintahkan kepada semua penjual susu untuk tidak mencampuri susu dengan air.” jawab putrinya.
“Wahai putriku, orang banyak telah melanggar perintah itu, maka langgar pulalah olehmu. Saat ini kamu berada di suatu tempat yang jauh, yang tidak bisa dilihat oleh Umar dan pembantunya. Dia tidak akan tahu perbuatan kita ini.”
Putrinya menyahut: “Jika Umar tidak tahu, tetapi Tuhannya Umar pasti tahu. Demi Allah, saya tidak akan mentaatinya di saat ramai dan mendurhakainya di saat sepi.”
Umar bin Khattab terpekur di balik dinding mendengar dialog itu. Rasa takjub menyerang kalbunya. Sesungguhnya ada mutiara berharga di dalam gubuk itu. Ronda tak lagi dilanjutkannya, ia bergegas pulang ke rumahnya. Dan memerintahkan sahabatnya, Aslam, untuk menyelidiki keluarga tersebut.
Keesokan harinya Umar bin Khattab menerima laporan dari Aslam. Aslam mengatakan bahwa yang menyuruh mencampur susu dengan air adalah ibunya. Sedang yang menolak mencampur susu dengan air adalah anaknya yang masih gadis. Di rumah itu tidak ada laki-laki. Mereka berasal dari kaum Bani Bilal.
Umar bin Khattab tidak akan membiarkan mutiara itu lepas begitu saja. Ia memanggil anaknya Ashim dan menikahkannya dengan anak gadis penjual susu yang jujur itu. Dari perkawinan itu lahir seorang putri, Ummu Ashim, yang kelak dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Pada tahun 63 H di Madinah Ummu Ashim melahirkan Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang sangat terkenal keadilan dan kebesarannya. Di masa kekhalifahannya tidak ada orang miskin. Zakat tidak ada yang menerima. Semua orang serba berkecukupan. Semua hutang dibayar oleh negara. Biaya nikah juga ditanggung oleh negara. Kebesarannya membuat Umar bin Abdul Aziz digelar dengan khulafarurrasyidin kelima.
Cerita diatas menunjukkan sebuah hikmah yang besar dan sebab akibat yang luar biasa. Kejujuran dan keimanan telah membuat seorang gadis miskin menjadi menantu seorang raja yang taat dan melahirkan keturunan raja yang taat pula yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Saat ini pendidikan Indonesia masih memprihatinkan. Indonesia berada pada peringkat 110 dari 173 negara. Aceh sebelum stunami berada pada peringkat 22 dari 27 provinsi di Indonesia (Serambi Indonesia 03052008). Sebuah prestasi yang menyedihkan. Banyak pendapat mengatakan bahwa hal ini terjadi karena mutu guru sangat rendah, tunjangan guru dan biaya pendidikan rendah, fasilitas pendidikan tidak memadai serta program pendidikan tidak terarah.
Pada negara miskin dan berkembang, tuntutan tersebut tidak mungkin bisa terpenuhi secara utuh. Kalaupun terpenuhi tidak akan menjamin pendidikan ini akan lebih baik tanpa kejujuran. Kejujuran merupakan hal yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan bahwa UN dijalankan bukan semata-mata mengukur keberhasilan anak didik, tapi pada uji kejujuran, kejujuran anak didik dan guru. Dari UN akan kelihatan sikap siswa terlatih menjadi diri sendiri tanpa berani berbuat curang. UN juga akan melahirkan manusia jujur, paling tidak jujur dengan kemampuan sendiri (Serambi Indonesia 06052008).
Namun kenyataan dilapangan menunjukan lain. Densus 88 menangkap guru yang berbuat curang saat UN di Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Polisi menahan 15 guru di Sulawesi Selatan karena membantu siswa membetulkan kunci jawaban. Kasus diatas menggambarkan sikap dan perilaku guru yang tidak memiliki idealisme dan profesionalisme. Hal ini terjadi hampir setiap tahun diseluruh daerah, namun tidak terungkapkan dan dipublikasikan.
Kasus ini telah membuat senjata makan tuan. Guru selalu menasehati anak didiknya untuk rajin belajar agar lulus UN. Sang anak cuek. “Ah, ngapain capek-capek belajar, toh nanti kunci jawaban dikasih”. Akhirnya suasana belajar menjadi hambar dan tidak bermakna. Lama-lama semangat mengajar guru ikut menurun karena tidak ada reaksi positif dari siswa. Ini adalah hukum karma dari ketidakjujuran dan mengakibatkan kemerosotan mutu pendidikan.
Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Semua orang menginginkan yang lebih baik dan terbaik dalam kehidupannya. Semua orang tua menginginkan anaknya pintar dan cerdas serta memiliki pendidikan yang baik. Hanya guru yang jujur, idealis dan profesional yang dapat mewujudkan impian tersebut. Pihak keamanan dan tim independen tidak akan bisa membuat pendidikan ini lebih baik karena ini bukan bidangnya. Kejujuran dan keimanan akan dapat membuat pendidikan ini lebih baik walaupun fasilitas pendidikan masih minim. Guru yang jujur akan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak baik menjadi baik. Seperti kejujuran nenek Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang telah mengubah kehidupannya yang miskin menjadi kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.

KONSEP PENDIDIKAN AL-GHAZALI


KONSEP PENDIDIKAN AL - GHAZALI
H. Azhar, S.Ag

Banyak pakar pendidikan menempatkan Al-Ghazali sebagai tokoh pendidikan yang sangat cemerlang ide-idenya tentang pendidikan. Al-Ghazali menasehatkan agar di dalam pendidikan perbedaan-perbedaan individual hendaknya diperhatikan. Misalnya, ia beranggapan bahwa kita hendaknya memilih bidang keilmuan yang kiranya seimbang dengan kemampuan intelek serta minat murid. Demikian pula dalam menetapkan bobot studi seorang murid, guru hendaknya mempertimbangkan aspek psikis muridnya.

Tulisan ini tertuju pada pandangan Imam Al-Ghazali. Menurutnya pendidikan yang benar merupakan sarana untuk menyebarluaskan keutamaan di tengah-tengah umat manusia. Al-Ghazali telah banyak menulis tentang masalah-masalah pendidikan, karyanya yang terpenting dalam hal ini adalah Ihya 'Ulum al-Din, Fatih al-'Ulum dan Ayyuha al- Walad, yang memuat pendapat-pendapatnya tentang pendidikan dan akhlak.
Al-Ghazali benar-benar menaruh perhatian terhadap penyebaran ilmu dan pendidikan. Ia beranggapan bahwa penyebaran ilmu dan pendidikan merupakan sarana untuk menyiarkan keutamaan, memelihara jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu menurut Al-Ghazali pendidikan tergolong ibadah dan merupakan upaya peningkatan diri. Menurut Al-Ghazali kesempurnaan manusia dalam bertaqarrub kepada Allah, ditentukan oleh ilmunya yang banyak dan lebih sempurna, maka dia pun akan lebih dekat dan lebih menyerupai malaikat.

Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghazali

Al-Ghazali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan Islam mengenai tujuan pendidikan. Ia menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana fadhilah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan, sebagaimana ungkapannya: "Manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya ia menjaganya dari siksaan api neraka dengan cara mendidik dan melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan sifat Rasulullah SA W dan sebaik-baik amal perbuatan orang-orang yang jujur terpercaya, dan merupakan realisasi dari buah ketekunan taqarrub ilallah".
Selanjutnya beliau mengatakan: Wajiblah bagi seorang guru untuk mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu, yaitu taqarrub kepada Allah SWT, bukannya mengarahkan kepada jabatan dan kemegahan. Dari hal ini jelaslah bahwa Al-Ghazali berpendirian bahwa tujuan pendidikan menurut beliau adalah bersifat keagamaan dan akhlak untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sekaligus untuk mendapatkan keridhaan-Nya, karena agama merupakan sistem kehidupan yang menitik beratkan pada pengamalan.

Al-Ghazali berpendapat: ... maka barangsiapa mengajarkan ilmu dan mengamalkan apa yang diajarkan, ia akan mendapatkan kebesaran di dalam cakrawala langit seperti kebesaran matahari menyinari benda-benda lainnya, ia menerangi jiwanya sendiri, atau bagaikan minyak kasturi yang semerbak bau harumnya (maka ia menjadi harum).
Dari pendapat-pendapat Al-Ghazali di atas dapat dijelaskan bahwa tujuan pendidikan menurut beliau adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan dan kemegahan. Karena kalau tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.
Dalam rangka pembentukan insan kamil, Al-Ghazali lebih cenderung membagi tujuan pendidikan Islam kepada tiga bagian yaitu:

a. Mempelajari ilmu pengetahuan bukan semata-mata untuk ilmu pengetahuan.

Al-Ghazali berprinsip hidup di dunia memang memerlukan pengetahuan dan keterampilan, serta dianjurkan untuk meneliti alam jagat raya, selama itu mengandung unsur nilai agama. Inilah sebabnya Al-Ghazali memberikan kajian bahwa tujuan pendidikan lslam adalah mencari ilmu bukan semata-mata untuk ilmu pengetahuan. Ilmu itu bersumber pada taqarrub ilallah. Al-Ghazali mengatakan: Apabila engkau memandang kepada ilmu, maka engkau akan melihat kelezatan pada zatnya, oleh karena itu dicari zatnya dan kamu menjumpai (ilmu) sebagai perantara untuk menuju kampung akhirat, itu merupakan kebahagiaan dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Dari ungkapan tersebut jelas menunjukkan bahwa penelitian, penalaran dan pengkajian yang mendalam dengan mencurahkan tenaga dan pikiran adalah mengandung kelezatan intelektual dan spiritual yang akan menumbuhkan ruh ilmiah. Al-Ghazali sangat menganjurkan kepada para pelajar agar menjadi orang yang cerdas, pandai berfikir, mengadakan penelitian yang mendalam dan dapat menggunakan akal pikirannya dengan baik dan optimal, untuk menguasai ilmu pengetahuan dengan sesungguhnya dan mengerti maksudnya. Dalam hal ini Amir Daien Indra Kusuma menyatakan: "Tujuan dari pendidikan kecerdasan adalah mendidik anak agar dapat berfikir secara kritis, berfikir secara logis, kreatif dan reflektif".
Dapat dikatakan, bahwa aspek kecerdasan, keilmuan dan cinta kebenaran yang dikemukakan Al-Ghazali mempunyai relevansi dengan dunia pendidikan modern, karena sama-sama meng-anjurkan untuk menggalakkan penelitian dan pengembangan ilmu penge-tahuan secara luas dan merata.

b. Membentuk akhlakul karimah.

Al-Ghazali juga memberikan gagasan tujuan pendidikan lslam ialah untuk membentuk akhlakul karimah. Al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang adalah kesempurnaan dan keutamaan j iwa-j iwanya.
Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa Al-Ghazali menghendaki keutamaan jiwa, kemuliaan akhlak dan kepribadian yang kuat, merupakan tujuan utama dari pendidikan bagi manusia, karena akhlak adalah aspek fundamental dalam kehidupan seseorang, masyarakat maupun suatu negara. Dalam hal ini Al-Ghazali memberikan nasehat kepada murid-muridnya:
Hai anakku! Ilmu yang tidak disertakan dengan amal itu namanya gila, dan amal tidak pakai ilmu itu sia-sia, dan ketahuilah bahwa semata-mata ilmu saja tidak akan menjauhkan maksiat di dunia ini dan tidak akan membawa kepada sebuah ketaatan, dan di akhirat kelak nanti tidak akan memelihara dan menghindarkanmu dari neraka jahannam.

c. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menurut Al-Ghazali pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat merupakan tujuan pendidikan umum. Hal ini sejalan dengan pendapat para pakar pendidikan serta ada relevansinya dengan tujuan pendidikan sekarang ini. Persamaan ini terlihat dari ungkapan Al-Ghazali sebagai berikut: "Dan sesungguhnya engkau mengetahui bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dan berhampiran dengan ketinggian malaikat, demikian itu di akhirat. Adapun di dunia adalah kemuliaan, kebesaran, dan pengaruh".
Al-Ghazali juga mengatakan: "Tujuan manusia itu tergantung dalam agama dan dunia. Agama tidak akan teratur melainkan dengan teraturnya dunia. Dunia adalah ladang tempat persemaian benih-benih akhirat. Dunia adalah alat yang menghubungkan seseorang dengan Allah. Sudah barang tentu, bagi orang yang menjadikan dunia hanya sebagai alat dan tempat persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikan sebagai tempat tinggal yang kekal dan negeri yang abadi". Melihat rumusan di atas, dapat dikatakan tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Zainuddin dkk, sebagai berikut:

 Aspek keilmuan, yang mengantarkan manusia agar senang berfikir, menggalakkan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi manusia yang cerdas dan terampil.
 Aspek kerohanian, yang mengantarkan manusia agar berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian kuat.
 Aspek ketuhanan, yang mengantarkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan ketika hidup di dunia ini dan di akhirat nanti.

Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali

Ada hal-hal penting untuk diperhatikan dalam mengkaji pemikiran Al-Ghazali dalam lapangan paedagogik, antara lain ialah besarnya perhatian Al-Ghazali terhadap ilmu dan pengajaran, serta kuatnya keyakinan bahwa pengajaran yang benar merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Atas dasar ini, maka Al-Ghazali menempatkan guru pada kedudukan yang tinggi dan menaruh kepercayaan kepada guru yang saleh, yang dipandangnya sebagai pembimbing dan pendidik yang baik.

Menurut pandangan Al-Ghazali, ilmu dapat dilihat dari dua segi yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sabagai objek. Dari segi proses, Al-Ghazali membagi ilmu menjadi ilmu hissiyah, ilmu 'aqliyah dan laduni. llmu hissiyah diperoleh manusia melalui penginderaan, ilmu 'aqliyah diperoleh melalui kegiatan berfikir, sedangkan ilmu laduni diperoleh langsung dari Allah SWT tanpa melalui proses penginderaan dan pemikiran (nalar), melainkan melalui hati. Kemudian ilmu sebagai objek menurut Al-Ghazali dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak, baik sedikit maupun banyak seperti sihir. l1mu ini tercela karena tidak memiliki nilai manfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Llmu pengetahuan yang terpuji, baik sedikit maupun banyak, namun kalau banyak lebih terpuji seperti ilmu agama dan ilmu tentang beribadah. l1mu ini terpuji karena dapat melepaskan manusia yang mempelajarinya dari perbuatan tercela, membantu manusia mengetahui kebaikan dan mengerjakannya, memberi tahu manusia ke jalan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah dalam mencari ridhaNya guna mempersiapkan dunia untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji, tetapi jika mendalaminya menjadi tercela, seperti ilmu filsafat. Menurut Al-Ghazali, ilmu-ilmu tersebut jika diperdalam akan menimbulkan kekacauan pikiran dan keraguan, yang akan mendorang manusia kepada kufur dan ingkar.

Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazali membagi lagi ilmu menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya, yaitu:

 Ilmu yang wajib (fardhu) diketahui oleh semua orang, yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber pada kitab Allah.
 Ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah, yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan duniawi seperti ilmu hitung dan kedokteran.
Al-Ghazali merupakan seorang ulama besar yang menaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap pendidikan. Corak pendidikan yang dikembangkannya tampak dipengaruhi oleh pandangannya tentang tasawuf dan fikih. Hal ini tidak mengherankan karena dalam bidang ilmu tersebut itulah Al-Ghazali memperlihatkan kecenderungannya yang besar. Konsep pendidikan yang dikemukakannya nampak selain sistematik dan komprehensif juga secara konsisten sejalan dengan sikap dan kepribadiannya sebagai seorang sufi.

STRATEGI PEMBELAJARAN KELAS I MI


Strategi Pembelajaran Kelas I Madrasah Ibtidaiyah Melalui MMP (Menulis, Membaca, Pormula) Oleh: Drs. Armas (Kepala MIN Uning Kab. Aceh tengah)


Anak yang masih berada pada tahap Usia Sekolah (AUS) kelas awal masih sangat memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak, antara lain dari pihak guru, orang tua, masyarakat. Elemen-elemen/unsur-unsur tersebut harus pro aktif, karena upaya-upaya yang dilakukan terhadap anak yang berada pada fase tersebut berada pada posisi peletakan landasan pertama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan dan pengajaran utama dan pertama.

Kepala Madrasah Ibtidaiyah harus mengadakan Sertifikasi guru yang akan mengasuh kelas I (wali kelas). Guru yang dipercayakan untuk mengasuh kelas ini harus memiliki jiwa edukatif yang lebih tinggi (panggilan nurani). Pada kelas ini anak mulai diajarkan menulis, membaca, mengaji, dan berhitung.
Kepada guru kelas I Madrasah Ibtidaiyah, penulis menawarkan salah satu program
Strategi Pembelajaran Menulis, Membaca, Pormula, sebagai berikut:

1. Penerimaan calon siswa baru untuk Madrasah Ibtidaiyah umur 6 - 7 tahun yang sehat jasmani dan rohani. Diharapkan kepada panitia penerimaan siswa baru kiranya jangan sempat kecolongan menerima siswa baru yang memiliki kelainan mental, sehingga akan berdampak fatal dan menjadi beban yang berat nantinya terhadap guru yang mengasuh kelas I.

2. Hari pertama pada tahun ajaran baru anak didik diharapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan Madrasah Ibtidaiyah melalui bantuan guru kelas I, sekaligus memperkenalkan sarana dan prasarana madrasah (ruang guru, kantor Kepala Madrasah, kamar mandi/WC, kantin, perpustakaan, dan lain-lain) agar anak tidak mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhannya.

3. Pada minggu kedua, Kepala Madrasah bersama Wali Kelas I mengadakan rapat/pertemuan dengan orang tua/wali anak didik untuk mensosialisasikan tentang kebutuhan anak dengan KBM-nya. Dalam rapat ini, sebaiknya dihadiri langsung oleh orang tua kandung anak didik, sebaiknya ibu kandung siswa tersebut, karena yang paling dekat dengan anak di dalam keluarga adalah ibu kandungnya. Kenapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila yang hadir pada pertemuan/rapat tersebut bukan orang tua kandung siswa - sopir, pembantu, tetangga - dikhawatirkan nantinya akan terjadi mis-komunikasi (ketidak sepahaman) dan tidak akan terjalin kerjasama yang sinergis antara pihak sekolah dengan orang tua siswa dalam memahami fungsi, peran, tugas masing-masing (pihak sekolah dan orang tua).

Pada rapat/pertemuan tersebut, Kepala Madrasah harus menyampaikan visi dan misi serta target pendidikan yang akan dicapai kepada orang tua murid.
GuruIWali Kelas I harus menyampaikan program-program pembelajaran, perlengkapan, pakaian dan atribut sekolah serta hal-hal penunjang lainnya secara detil. Contoh, setiap anak harus memakai seragam sekolah dengan rapi dan sopan serta harus mengenakan pakaian/celana dalam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, baik oleh guru dan orang tua siswa.

Perlengkapan sekolah anak yang harus disiapkan orang tua/wali murid, berupa; tas, pinsil (2 buah), buku tulis (2 buah),rautan dan penggaris. Mengenai perlengkapan sekolah berupa pinsil dan buku tulis yang masing-masing berjumlah 2 buah - 1 set (pinsil dan buku) disimpan disekolah - hal ini diperuntukkan manakala si anak lupa membawa perlengkapan sekolah atau ada kerusakan bisa langsung disediakan oleh pihak sekolah/guru sehingga tidak mengganggu proses belajar anak.
Pada dasarnya, secara psikologis setiap anak ingin mendapat perhatian dan penghargaan yang lebih. Bila salah satu anak lupa membawa perlengkapan sekolahnya (pensil) rusak lantas dibantu oleh guru untuk meraut/menajamkan, maka dampak psikologis yang muncul anak/siswa yang lain akan mematahkan/merusakkan pinsilnya agar mendapatkan perlakuan yang sama dengan siswa terdahulu. Kalau hal ini terjadi, maka tugas guru/wali kelas I lebih dominan kepada hal "meraut atau menajamkan pinsil", sementara waktu terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, guru/wali kelas I harus membereskan perlengkapan siswa selesai proses belajar dan disimpan di lemari sekolah demi tercapainya proses belajar yang lebih efektif dan efisien.
Selesai pertemuan/rapat dengan wali/orang tua murid, mereka diharapkan masuk ke ruang belajar kelas I bersama anaknya untuk melihat secara langsung proses belajar mengajar.

4. Minggu kedua hari kedua, guru kelas memperagakan menulis lidi/garis di papan tulis, agar bisa dicontoh dan ditulis siswa dalam satu halaman penuh.

5. Hari ketiga, guru memperagakan menulis garis melengkung berbentuk cacing di papan tulis, dicontoh oleh siswa dengan menuliskannya di buku satu halaman penuh.

6. Hari keempat, guru memperagakan menulis di papan tulis gambar lingkaran atau bola, dicontoh oleh siswa dengan menuliskan di satu halaman penuh. Con

7. Hari kelima, guru menulis di papan tulis gambar lidi bertemu setengah bola, cacing bertemu dengan setengah bola. Siswa menuliskannya di buku satu halaman penuh sesuai dengan aspirasinya.

8. Hari keenam, guru menulis gambar lidi bertemu dengan bola, cacing bertemu dengan bola menyerupai angka atau huruf, anak menuliskannya di buku satu halaman penuh gambar yang dibuat di papan tulis.

Teknik penulisan seperti ini bertujuan untuk melembutkan tangan anak dalam memulai menulis pada kelas awal.

9. Minggu ketiga, guru kelas sudah dapat mengajarkan kepada siswa huruf abjad dimulai dari huruf "a" secara sistematis/berurutan dan bertahap. Guru tidak boleh mengajarkan penulisan abjad a s/d z secara sekaligus, akan tetapi abjad itu diajarkan satu hari satu huruf, sampai semua siswa mengenal lambang dan bunyi huruf-huruf abjad. Disarankan kepada anak agar dapat menulis huruf "a" sebanyak satu halaman penuh, demikian juga dengan huruf-huruf lainnya sampai dengan abjad "z". Sebaiknya menggunakan alat BantuJperaga kartu huruf

10. Setelah anak mengerti lambang bunyi huruf "a s/d z" berikutnya bulan ketiga minggu keempat, siswa sudah dapat diajarkan dengan menyambung satu huruf dengan huruf yang lain, terutama dengan hurufvocal. Hal ini pun diajarkan satu hari, satu materi. Contoh:
a - i - u - e - o diajarkan satu hari
ba - bi - bu -be - bo diajarkan satu hari
ca - ci - cu - ce - co diajarkan satu hari
da - di - du - de - do diajarkan satu hari
pa - pi - pu - pe - po
ga - gi - gu - ge - go
ha - hi - hu - he - ho
ja - ji - ju - ju - jo
ka - ki - ku - ke - ko
la - li - lu - Ie - lo
ma - mi - mu - me - mo
na - ni - nu - ne - no
pa - pi - pu - pe - po
qa - qi- qu - qe - qo
ra - ri - ru-re-ro
sa - si - su - se - so
ta - ti - tu - te - to
va - vi - vu - ve - vo
wa - wi - wu - we - wo
xa - xi - xu - xe - xo
ya - yi - yu - ye - yo
za - zi - zu - ze - zo


11. Bulan ketiga minggu keempat, Wali Kelas I mengundang para orang tua/wali murid ke sekolah untuk duduk bersama memperhatikan perkembangan belajar anaknya dalam belajar membaca, hal ini untuk mempermudah para orang tua siswa dalam mengajarkan anaknya menulis dan membaca di rumah. Contoh:
ini aku abu dst
Itu ibu ubi

· 12. Guru kelas I memberikan pelajaran menulis dan membaca ini dengan meggunakan gambar atau alat peraga untuk memudahkan guru memberikan materi pelajaran pada anak didiknya.

13. Teknik yang sederhana ini merupakan langkah awal dalam penerapan MMP pada anak.
Teknik ini lebih tepat mungkin diberikan pada pembelajaran anak-anak di sekolah pinggiran yang belum menyentuh TK atau RA.

14. Untuk melaksanakan beberapa hal tersebut di atas, yang perlu diperhatikan adalah :
Daya tampung siswa pada kelas satu tidak melebihi dari 30 orang
Orang tua/wali murid harus mengutamakan kepentingan anaknya yang masih duduk di kelas I
Kepala Madrasah harus serius memfasilitasi para guru kelas I
Siswa tidak boleh lebih dari 2 hari tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.

Jumat, 31 Oktober 2008

STRATEGI PEMBELAJARAN NABI MUHAMMAD

STRATEGI PEMBELAJARAN NABI MUHAMMAD SAW.
Oleh : Bunyamin
Abstrak:
Keberhasilan suatu proses pendidikan sangat ditentukan oleh banyak faktor, salah satu faktor terpenting yang kadang dilupakan adalah strategi. Strategi pembelajaran merupakan rencana awal untuk membentuk peserta didik, baik formal (di sekolah) maupun informal (dalam keluarga). Rasulullah SAW. adalah manusia yang dipersiapkan oleh Allah SWT. untuk dijadikan panutan oleh seluruh umat manusia dalam segala hal termasuk dalam pendidikan dan lebih khusus lagi dalam strategi pembelajaran. Walaupun keadaan masyarakat sudah berbeda, akan tetapi nilai-nilai penanaman strategi yang diterapkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya patut dijadikan contoh tauladan oleh setiap umat Islam, baik sebagai guru formal di sekolah maupun dalam pembinaan anggota keluarga.
Pendahuluan
Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreativitas murid (peserta didik) bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT., berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri, bangsa, negara dan agama. Pada prinsipnya Islam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah SWT. dan sekaligus tunduk kepada hukum-hukum-Nya, oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah tersebut. Manusia di dalam hidupnya harus berorientasi kepada kekuatan atau kekuasaan yang berada di balik ciptaan alam raya serta mengaktualisasikan hukum-hukum Allah melalui tingkah laku dalam kegiatan hidupnya.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, produk pendidikan sering hanya diukur dari perubahan eksternal yaitu kemajuan fisik dan material yang dapat meningkatkan pemuasan kebutuhan manusia. Produk pendidikan dapat menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil untuk melakukan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap sesama manusia. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan menjadi instrumen kekuasaan dan kesombongan untuk memperdaya orang lain, kecerdikan digunakan untuk menipu dan menindas orang lain, produk pendidikan menghasilkan manusia serakah dan egois.
Distorsi nilai-nilai rohaniyah begitu nampak terlihat, seolah-olah nilai kemanusiaan telah mati, alat-alat diubah menjadi tujuan, produksi dan konsumsi barang-barang menjadi tujuan hidup, banyak manusia yang tidak tergetar hatinya ketika disebut nama Allah, tidak merasa takut dengan ancaman Allah, padahal sesungguhnya sebuah pendidikan harus dapat menghidupkan nuansa spiritual manusia, menumbuhkan nilai kemanusiaan dan ketuhanan dalam batinnya, di samping mengembangkan manajerial untuk memenuhi kebutuhan obyektifnya.
Ketidakberhasilan tertanamnya nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketaqwaan) terhadap perserta didik dewasa ini sangat terkait dengan dua faktor penting dalam proses pembelajaran di samping banyaknya faktor-faktor yang lain, kedua faktor tersebut adalah strategi dan metode pembelajaran serta orang yang menyampaikan pesan ilahiyah (guru). Dalam tulisan ini, penulis menggali beberapa strategi yang dilakukan oleh Rasulullah dalam proses pembelajaran yang beliau lakukan.
Pembahasan
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi, menurut Poerwadarminta adalah; 1). Ilmu siasat perang, 2). Siasat Perang, 3). Bahasa Pembicaraan akal (tipu muslihat) untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere” yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.[1] Pengertian ini lebih mengarah kepada guru sebagai pelaku perubahan.
Muhammad Surya memberikan pengertian pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[2] Pengertian ini lebih menekankan kepada murid (individu) sebagai pelaku perubahan.
Pengertian lain dirumuskan oleh Oemar Hamalik, bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.[3]
Menyimak pengertian di atas maka strategi identik dengan teknik, siasat berperang, namun apabila digabungkan dengan kata pembelajaran (strategi pembelajaran) dapat difahami sebagai suatu cara atau seperangkat cara atau jalan yang dilakukan dan ditempuh oleh seorang guru atau murid dalam melakukan upaya terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap.
Surya mengemukakan, ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu; Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku, prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri individu (walaupun tidak semua perubahan perilaku individu merupakan hasil pembelajaran). Kedua, Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan - perubahan itu meliputi aspek kognitif, afektif dan motorik. Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Keempat, proses pembelajarn terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung makna bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itulah pembelajaran akan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang ingin dicapai. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan. Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu, pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata.
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud strategi pembelajaran adalah suatu cara atau metode yang dilakukan oleh individu (guru) terhadap individu yang lain (murid) dalam upaya terjadinya perubahan pada aspek kognitif, afektif dan motorik secara berkesinambungan.
B. Materi Pembelajaran Masa Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk berjuang di tengah- tengah masyarakat Makkah, sebuah masyarakat yang telah berpaling dari kebenaran yang telah diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, mereka meninggalkan ajaran Ibrahim dan kembali kepada kemusyrikan yang penuh dengan tahayul dan khurafat dengan melakukan penyembahan kepada berhala yang mereka buat sendiri. Kondisi iklim Makkah yang panas dan kering pun sangat mempengaruhi kondisi kejiwaannya yakni membentuk watak yang keras, karena mereka harus berjuang melawan alamnya yang keras hingga dapat menyesuaikan diri.
Situasi bangsa Arab pada umumnya sebelum kedatangan Islam, disebut sebagai masyarakat jahiliyah, yaitu sebuah masyarakat yang senantiasa melawan kebenaran atau orang-orang yang jauh dari nilai agama yang benar. Pada umumnya mereka menyembah berhala karena sesuai dengan sistem kemasyarakatan mereka yang terdiri dari suku-suku. Setiap suku mempunyai sesembahannya sendiri-sendiri yang berbeda dengan suku yang lain, berhala-berhala tersebut mereka buat sesuai dengan selera mereka, lebih dari itu di sekitar Ka’bah saja terdapat ratusan berhala.
Di tengah-tengah kondisi seperti itulah Nabi Muhammad SAW. ditugaskan oleh Allah SWT. untuk menyampaikan ajaran (dakwah) sehingga masyarakat kembali kepada jalan yang benar. Firman Allah dalam surat al-Mudatsir: 1-7
يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرْ(1)قُمْ فَأَنْذِرْ(2)وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ(3)وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(4)وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ(5)وَلاَ تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ(6)وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ(7)
“Hai orang yang berselimut, bangunlah kemudian berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak, dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu bersabarlah”.
Sesuai dengan tugas yang diembankan kepadanya, serta kondisi lingkungan yang ada pada zamannya, materi pembelajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Kepada masyarakat dilingkungannya tidak dalam masalah karier, politik dan keduniaan, tetapi lebih terfokus kepada pembinaan aqidah, moral dan akhlak umat.
Materi pembelajaran Rasulullah SAW. yang bersifat fundamental telah digariskan oleh Allah SWT., seperti terdapat dalam Q.S. al-Jumu’ah: 2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُ مِّيِّينَ رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ(2)
“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (al-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Buta huruf yang dimaksud ayat di atas adalah, mereka (bangsa Arab) tidak mempunyai pengetahuan tentang Allah SWT. dan Rasul-Nya, kemudian Allah SWT. mengutus seorang Rasul kepada umat yang rusak ini. Muhammad SAW. adalah seorang Rasul yang mempunyai tekad yang kuat, sifatnya yang lembut dengan spiritualitas terdalam dan moralitas tertinggi dan melalui Nabi Muhammad SAW. tersebut Allah SWT. akan membimbing mereka dalam rangka menjadi orang yang cerdas dan kelak akan menjadi pemimpin manusia.
Kalimat membacakan ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka, menunjukkan bahwa Rasulullah SAW. akan mengajarkan mereka tentang makna al-Qur’an dan penciptaan dengan cara bertahap dan memberi tahu mereka bagaimana untuk menjadi manusia sempurna dengan berjuang meraih kesempurnaan spiritual. Allah SWT. membimbing mereka melalui Rasul-Nya menuju derajat yang lebih tinggi dengan menjelaskan al-Qur’an dan semesta kepada mereka, dan memperlihatkan mereka secara rinci bagaimana menuju kehidupan yang seimbang dan baik dalam setiap bidang kegiatan.[4]
Dari ayat di atas nampak jelas bahwa materi pendidikan yang harus diemban oleh Rasulullah SAW. berkenaan dengan persoalan yang mendasar yakni pengenalan dan penyadaran umat terhadap Allah SWT. (aqidah), selanjutnya menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia sehingga manusia yang secara fitrah suci ketika dilahirkan, tetap dalam keadaan suci ketika menghadap Allah SWT.
Dalam al-Quran dan tafsirnya yang diterbitkan oleh Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Q.S. al-Jum’ah ayat dua tersebut mengandung tiga materi pokok yang harus dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW. yakni; pertama, membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an yang di dalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Kedua, Membersihkan masyarakat dari aqidah yang menyesatkan, dosa kemusyrikan, sifat-sifat jahiliyah yang biadab sehingga mereka itu berakidah tauhid meng-Esakan Allah SWT, tidak tunduk kepada pemimpin yang menyesatkan dan tidak percaya lagi kepada sesembahan mereka seperti batu, pohon dan sebagainya. Ketiga, Mengajarkan kepada mereka (masyarakat) syari’at agama beserta hukum-hukumnya serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Hamka, menguraikan dalam tafsir al-Azharnya bahwa berdasarkan ayat di atas, materi pembelajaran yang ditugaskan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. adalah membersihkan jiwa mereka dari kepercayaan yang karut, dari pada aqidah yang salah, daripada langkah yang tersesat dan membersihkan pula badan (diri) mereka dari kotoran, karena selama ini belum tahu arti kebersihan, sehingga diajar wudhu, diajar mandi junub dan menghilangkan hadas dan najis bahkan sampai diajar menggosok gigi. Selanjutnya masih menurut Hamka, materi pembelajaran Nabi Muhammad SAW. adalah mengajarkan al-kitab (mushaf al-qur’an atau syariat) dan hikmah (Sunah Rasul atau arti dan rahasia daripada perintah dan larangan Allah SWT.[5]
Syaih Shafiyyurrahman al-Mubarakfury dalam Sirah Nabawiyah menyatakan bahwa materi pembelajaran Rasulullah pada tahap awal meliputi; pertama, tauhid, kedua, iman kepada hari akhir, ketiga, membersihkan jiwa dengan cara menjauhi kemungkaran dan kekejian yang kadang-kadang mengakibatkan munculnya hal-hal yang kurang menyenangkan, mencari keutamaan, kesempurnaan, dan perbuatan-perbuatan baik, keempat, menyerahkan urusan semua kepada Allah SWT., dan kelima, semua itu dilakukan setelah beriman kepada risalah Nabi Muhammad SAW. bernaung di bawah kepemimpinan dan bimbingan Rasulullah yang lurus.[6]
Dalam penelusuran Haikal, dinyatakan bahwa ajaran utama Rasulullah SAW. adalah mengenalkan ajaran Islam sebagai agama yang benar, agama yang sempurna, agama Allah Yang Maha Agung, agama yang akan mengajak membebaskan pikiran-pikiran manusia untuk dapat menilai, menyadari dan berfikir. Rasullah SAW. mengajarkan sistem hidup berakidah dan bermasyarakat yang menjadikan dasar keseimbangan hidup manusia.[7]
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup materi pembelajaran Nabi Muhammad SAW. meliputi persoalan-persoalan yang fundamental bagi kehidupan manusia sebagai khalifah Allah SWT., yaitu aqidah dan tauhid sebagai materi pokok, mengajarkan firman-firman Allah SWT. sekaligus dengan arti dan makna dari setiap firman Allah SWT. tersebut, pemberian pemahaman terhadap asal kejadian alam dan asal kejadian manusia, membentuk sistem hidup bermasyarakat, pembersihan jiwa dengan menjauhi kemungkaran dan kekejian, penanaman akhlak yang baik, pendidikan jasmani juga merupakan hal yang diperhatikan oleh Rasulullah SAW. terutama yang berhubungan dengan kebersihan badan, pakaian dan tempat tinggal.
Sejalan dengan penanaman aqidah dan tauhid, Rasulullah SAW. memberikan penyadaran tentang hakekat manusia; dari mana manusia berasal, harus bagaimana hidup di dunia, dan akan kemana setelah kematian tiba, sehingga secara bersamaan berlangsung juga penanaman nilai-nilai moral, ahlak yang mengarah kepada penyadaran bahwa Islam bukan agama ilusi dan khayal, Islam bukan agama terbatas, tetapi Islam adalah agama kodrat (fitrah) yang dengan itu seluruh umat manusia difitrahkan.
Jika diperhatikan, sesungguhnya materi yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. pada dasarnya merupakan keseluruhan ajaran Islam, baik yang menyangkut habl min Allah sebagai pondasi dari ajaran Islam yakni aqidah dan tauhid maupun habl min al-nas yang merupakan implementasi dari habl min Allah. Ajaran Islam sebagai materi yang diberikan Rasulullah SAW. mengandung materi yang cukup luas karena mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang akhirnya bermuara kepada sikap pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT.
C. Strategi Pembelajaran Nabi Muhammad SAW.
Sebelum Nabi Muhammad SAW. memulai tugasnya sebagai Rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya, Allah SWT. telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, melalui pengalaman, pengenalan serta peran-sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya, dengan potensi fitrahnya yang luar biasa.[8]
Di dalam diri Nabi Muhammad SAW., seolah-olah Allah SWT. telah menyusun suatu metodologi pendidikan Islam yang sempurna, suatu bentuk yang hidup dan abadi selama sejarah kehidupan manusia masih berlangsung. Berbagai kepribadian terpuji berkumpul di dalam satu pribadi, yang masing-masing melengkapi bagian-bagian lain, seakan-akan pribadi itu sesuatu yang mempunyai banyak sisi yang berbeda, kemudian dipertautkan menjadi suatu benda yang lebih luas, tersusun rapi menjadi suatu lingkaran yang sangat sempurna dengan unsur-unsur pribadi yang disusun dengan baik dan teratur.[9]
Sebagai manusia pilihan yang sudah dipersiapkan oleh Allah SWT. untuk menyampaikan risalah Islam, tentu saja dalam melaksanakan tugas tersebut selalu berada di bawah pengawasan dan bimbingan-Nya, akan tetapi sebagai manusia biasa yang diberi akal, hati dan indra lainnya, Rasulullah SAW. adalah manusia yang sangat cerdas, kreatif, inovatif dalam menyampaikan risalah Islam yang sekaligus sebagai materi dari pendidikan yang menjadi tugas utama Nabi.
Sebagai pribadi, Rasulullah SAW. memiliki kepribadian dan nilai-nilai kepemimpinan serta pola manajemen yang baik, sehingga strategi pembelajaran Rasulullah SAW. dapat dilaksanakan dan berhasil dengan baik. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa Rasulullah SAW. adalah seorang Rasulullah yang tentunya berbeda dengan manusia biasa yang segala sikap dan tingkah laku serta perbuatannya sangat dipengaruhi bahkan selalu dalam bimbingan wahyu Tuhan. Tetapi sebagai manusia, Rasulullah memang telah memiliki kepribadian yang terpuji sehingga beliau memperoleh predikat “al-amin” artinya yang jujur, begitupun dengan kemampuan beliau sebagai seorang pemimpin dan kombinasi dari kemampuan dan sikapnya yang mulia serta didukung oleh bimbingan Allah SWT. yang terus-menerus, pembelajarannya dapat berhasil dengan baik.
Dalam melaksanakan tugas dakwahnya (menyampaikan pembelajaran) kepada masyarakat, Allah SWT. telah memberikan landasan umum berkenaan dengan strategi pembelajaran yang harus dipedomani oleh Nabi Muhammad SAW, seperti firman Allah dalam surat al-Nahl: 125
اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Landasan umum yang telah digariskan oleh Allah SWT. dalam melaksanakan pembelajaran kepada masyarakat seperti bunyi ayat di atas adalah; bahwa dalam setiap gerak dan langkah mengajak orang kembali kepada jalan Allah itu haruslah dilakukan dengan cara-cara yang bijak, bahkan ketika berargumentasi dengan yang belum sefaham harus juga dilakukan dengan cara yang baik, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit hati orang lain.
Berdasarkan Hadis-Hadis yang ada, dalam konteks pembelajaran, Nabi Muhammad SAW. sangat kaya dengan strategi dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikannya, sehingga tujuan pendidikan yang dikehendaki dapat tercapai dengan baik. Beberapa strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. antara lain:
1. Strategi Penanaman Keimanan
Pada mulanya bangsa Arab adalah penganut agama Nabi Ibrahim, kemudian berubah menjadi penganut penyembah berhala. Sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Di setiap rumahtangga di Makkah memiliki sesembahan (berhala) sendiri-sendiri, sehingga bila mereka hendak melakukan perjalanan jauh sebelum berangkat mereka melakukan penyembahan terlebih dahulu kepada berhala-berhala yang menjadi pujaannya, berhala tersebut mereka buat sesuai dengan bentuk dan jenis yang mereka kehendaki, di sekitar Ka’bah saja terdapat sekitar 360 berhala, di antaranya ada empat berhala utama yang disembah oleh hampir seluruh bangsa Arab yakni Uzza, Latta, Manat dan Hubal.[10]
Pelaksanaan pendidikan keimanan kepada masyarakat yang langsung dihadapinya dilakukan dengan cara yang sangat bijaksana, dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan menerima pengertian tauhid yang diajarkan dan sekaligus beliau memberikan contoh teladan bagaimana penerapan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah selalu menilai kapasitas spiritual dan mental seseorang atau satu kelompok dengan akurat. Dia berbicara secara langsung dengan individu tertentu pada waktu dan tempat tertentu, dia tidak perlu diuji. Suatu kali Husayn seorang ahli pidato yang terkenal karena kekuatan persuasifnya dan retorikanya, berusaha membujuk Nabi Muhamad SAW. Untuk meninggalkan misinya. Rasulullah mendengarkan dengan penuh khusyu’ dan mulai percakapan sebagai berikut; “Nabi Muhammad SAW. berkata: Husayn, berapa banyak Tuhan yang kau sembah?. Husayn menjawab: Delapan, satu di langit dan yang lain di bumi. Nabi Muhammad SAW. bertanya lagi: Mana yang kau seru saat bencana menimpamu?. Jawab Husayn: Yang di langit. Nabi melanjutkan: Yang mana yang kau seru saat barangmu hilang? Husayn: Yang di langit. Nabi Muhammad SAW.: Menurutmu, Tuhan yang di langit saja yang menjawab permohonanmu, tetapi engkau tetap menyekutukannya. Bukankah ini yang ku ajarkan? Tidak ada Tuhan selain Allah. Jadilah muslim dan engkau selamat.” Argumen yang nampak sederhana ini mampu mengalahkan Husayn dengan logikanya sendiri.[11]
Nabi Muhammad SAW. dalam rangka menanamkan nilai-nilai tauhid selalu mengajak umatnya untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah SAW. di dalam diri manusia sendiri. Kemudian beliau mengajarkan cara bagaimana merealisir pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari, semua kebiasaan yang bertentangan dengan tauhid diubah dan diluruskan secara berangsur-angsur, sehingga sesuai dengan kebenaran tauhid.
Dalam hal pembinaan keimanan jangka panjang, untuk membentuk generasi selanjutnya, Nabi Muhammad mengajarkan kepada masyarakat yang telah beriman agar melakukan penanaman benih-benih keimanan pada anak-anak mereka sejak dini, sehingga ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa telah menjadi generasi yang beriman kepada Allah SWT.
Strategi Nabi Muhammad SAW. ini dapat ditemukan di dalam beberapa ungkapan beliau antara lain: “bacakanlah (ajarkanlah) kepada anak-anak kamu kalimat pertama dengan laa ilaaha illallah…” (HR. al-Hakim dari Ibn Abbas ra.).Tujuan dari ucapan Nabi ini tiada lain adalah agar kalimat tauhid dan syiar masuk Islam itu menjadi yang pertama masuk ke dalam pendengaran anak, kalimat yang pertama diucapkan oleh lisannya dan lafal pertama yang difahami anak. lebih dari itu beliau telah memberikan contoh dalam meletakkan dasar-dasar keimanan yaitu dengan mengadzankan dan mengiqamatkan anak yang baru saja dilahirkan.[12]
Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” yang dikutip oleh Abdullah Nasih Ulwan, hikmah adzan dan iqamat adalah agar suara pertama kali diterima pendengaran manusia adalah kalimat-kalimat seruan Yang Maha Tinggi yang mengandung kebesaran Tuhan, juga syahadat sebagai kalimat pertama masuk Islam, hal itu merupakan ta’lim (pengajaran) baginya tentang syariat Islam ketika anak baru memasuki dunia.[13]
Untuk menanamkan kebiasaan beribadah (shalat) sejak dini, Rasulullah SAW. menganjurkan kepada setiap orang tua untuk menyuruh (dengan kata-kata) kepada setiap anak-anaknya, ketika mereka berusia tujuh tahun agar mau melaksanakan ibadah shalat, selanjutnya Rasulullah SAW. menganjurkan jika anak pada usia sepuluh tahun belum mau melaksanakan shalat maka ”pukullah” ia. Sebagai mana makna Hadis dari Amir ibn Syuaib yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud “perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat dikala mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena mereka tidak mengerjakannnya dikala mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya”. Memukul dalam hal ini tidak dilandasi oleh emosional dan kemarahan, tetapi sebaliknya memukul yang dilandasi dengan kasih sayang dan keikhlasan serta dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT.
Perintah memukul ini mengandung makna yang sangat dalam , mengingat Rasulullah SAW. sendiri dalam kontek pendidikan, tidak pernah memukul (dengan tangan) selama hidupnya. Perintah ini hanyalah menunjukan ketegasan Rasulullah SAW. untuk menanamkan kebiasaan positif yang harus dimulai sejak anak-anak.
Dari dua pelajaran yang disabdakan Rasulullah SAW (tentang mengadzankan dan mengiqamatkan anak yang baru dilahirkan dan tentang memukul bagi anak yang tidak mau shalat) dapat disimpulkan betapa Rasulullah SAW. sangat memperhatikan pengajaran dasar-dasar keimanan dan pelaksanaan dari keimanan tersebut yakni penyembahan kepada Allah SWT. dalam bentuk ritual shalat sebagai tiang agama.
Rasulullah telah melakukan strategi jangka panjang untuk pembinaan umat yang akan datang dengan melakukan penanaman keimanan sejak dini, karena jika pendidikan anak jauh dari aqidah Islam, terlepas dari ajaran religius dan tidak berhubungan dengan Allah, maka besar kemungkinan seorang anak akan tumbuh dewasa di atas dasar kefasikan, penyimpangan, kesesatan dan kekafiran, jika ini yang terjadi maka yang ada adalah generasi manusia yang kosong tidak bermakna karena jauh dari bimbingan Allah SWT.
2. Strategi Membangun Kekuatan Umat
Tugas dakwah (pendidikan Islam) dalam rangka menegakan syariat Islam, bukanlah tugas yang ringan. Sejarah telah mencatat bahkan diabadikan dalam al-Quran, betapa perjuangan Nabi Muhammad SAW. dalam menyiarkan dan menegakkan ajaran Islam mengalami halangan dan rintangan yang luar biasa dari orang-orang kafir yang tidak menerima ajaran Islam sebagai agama penyempurna yang diiringi dengan penolakan terhadap eksistensi Nabi Muhammad SAW.
Berulang kali Rasulullah melakukan peperangan dalam rangka menaklukan suatu wilayah demi tersiarnya sinar Islam pada masyarakat tersebut. Dengan tantangan yang demikian berat itulah Nabi Muhammad SAW. senantiasa berfikir untuk membentuk kekuatan umat baik jangka pendek maupun jangka panjang. Betapa suatu kekuatan sangat diperlukan, Rasulullah berpijak antara lain kepada firman Allah surat al-Anfal ayat 60 “dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahui apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”.
Hamka mengungkapkan, karena peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. juga merupakan bagian dari perintah Allah SWT. maka Allah dalam ayat di atas dengan sangat tegas memerintahkan supaya bersiap terus dengan segala macam alat yang ada. Di zaman Nabi orang berperang dengan pedang dan tombak, kian lama persenjataan itu semakin modern sampai kepada persenjataan (pistol, peluru kendali bahkan senjata nuklir), maka ayat ini mengingatkan kita secara terus menerus agar kita bersiap terus mengikuti perkembangan senjata itu.[14]
Rasulullah sangat memperhatikan betapa kekuatan umat Islam menjadi suatu keharusan, demi terlaksananya dakwah Islam. Menyadari bahwa kekuatan umat (kekuatan fisik, keterampilan berperang dan sejenisnya) maka pendidikan jasmani dari mulai persoalan kesehatan fisik sampai keterampilan memanah, berenang dan menunggang kuda menjadi perhatian Rasulullah SAW. dan sekaligus menjadi bagian dari materi pendidikan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Sebuah pernyataan Rasulullah SAW. dalam menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya menjadi seorang muslim yang kuat seperti Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim “Orang muslim yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang muslim yang lemah…” Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW. sudah lebih mengarahkan kepada kekuatan yang dibutuhkan oleh umat Islam dalam menghadapi musuh-musuh Islam, kekuatan itu yang berhubungan dengan aktivitas peperangan seperti latihan memanah dan latihan menunggang kuda. Anjuran untuk belajar berenang menunjukan bahwa Rasulullah SAW. memiliki orientasi sangat jauh ke depan, untuk membangun kekuatan fisik secara pribadi. Sabda Rasulullah seperti yang diriwayatkan al-Tabrani; “segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan dzikir maka itu adalah senda gurau kecuali empat perkara; berjalannya seorang antara dua tujuan (untuk memanah), latihan menunggang kuda, bermain dengan keluarganya dan belajar berenang”
Ungkapan Rasulullah berkenaan dengan kepentingan belajar keterampilan yang berhubungan dengan aktivitas peperangan akan selalu relevan hingga akhir zaman, mengingat ungkapan-ungkapan Rasulullah tersebut dapat dimaknai sesuai dengan perkembangan zaman. Ungkapan Rasulullah tersebut sebagai bukti bahwa Rasulullah adalah sosok guru yang memiliki wawasan ke depan dalam mempersiapkan generasi umat yang kuat.
3. Strategi Menumbuhkan Semangat Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu (belajar) merupakan suatu keniscayaan dalam hidup manusia, belajar juga merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perkembangan dan kemajuan peradaban sebuah bangsa. Karenannya Allah SWT. mengawali pemberian wahyu kepada Rasul-Nya berupa doktrin tentang membaca, tentang menuntut ilmu, tentang belajar.[15]
Pada wahyu pertama tersebut, Allah SWT. menyebutkan bagaimana Dia mengajarkan manusia secara umum dan khusus, “yang mengajarkan dengan kalam,” ini di dalamnya termasuk mengajarkan malaikat dan manusia. Dilanjutkan dengan pengajaran manusia secara khusus, yaitu apa yang tidak diketahui oleh manusia. Seluruh ilmu dalam otak didapatkan karena pengajaran Allah SWT. seluruh lafal dalam lisan dan tulisan adalah dengan kekuasaan, penciptaan dan pengajaran Allah SWT.[16]
Doktrin Allah SWT. menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dimiliki oleh manusia, sehingga Allah SWT sendiri memuji orang-orang yang berilmu pengetahuan.[17] Rasulullah SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk menanamkan ilmu pengetahuan kepada kaumnya sekaligus untuk mensucikan jiwa mereka sehingga dapat menempuh jalan yang lurus. Sebagai pemegang amanah untuk menyampaikan risalah, berkenaan dengan pentingnya ilmu pengetahuan dan mulianya orang yang berpengetahuan, Rasulullah SAW. kemudian membina umatnya kearah kesadaran untuk menjadi orang-orang yang berilmu pengetahuan.
Hadis-Hadis pendek yang populer yang memiliki arti seperti “menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat” atau “tuntutlah ilmu dari mulai buaian sampai ke liang lahat” atau “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” atau “ amal yang sedikit akan bermanfaat dengan ilmu dan amal yang banyak tidak akan bermanfaat dengan kebodohan” menunjukan kesungguhan Rasulullah SAW. dalam membangun kesadaran umatnya agar senantiasa menuntut ilmu pengetahuan secara terus-menerus tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Begitulah strategi Rasulullah dalam menumbuhkan semangat menuntut ilmu, sehingga umatnya senantiasa memacu diri untuk memiliki sifat kompetisi dalam kekayaan ilmu pengetahuan.
4. Menjawab Pertanyaan Sesuai Dengan Kebutuhan Dan Kondisai
Dalam proses pendidikan dan pengajaran baik formal maupun non- formal, senantiasa ada pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban, bagi seorang guru menjawab pertanyaan setiap pertanyaan yang diajukan oleh muridnya merupakan suatu kewajiban, demikian halnya dengan orang tua di rumah yang harus selalu siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak-anaknya.
Menjawab sebuah pertanyaan, tentu saja harus sesuai dengan maksud pertanyaan, oleh karenannya selain seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, beliau juga dituntut untuk menggunakan strategi yang tepat dalam menjawab pertanyaan tersebut, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat.
Terhadap sebuah pertanyaan yang sama tetapi diajukan oleh beberapa orang yang berbeda, Rasulullah SAW. tidak memberikan jawaban yang sama, jawaban terhadap pertanyaan tersebut disesuaikan dengan karakter dan kondisi si penanya serta kondisi lingkungan pada saat pertanyaan itu diajukan; suatu ketika Rasulullah ditanya oleh Abdullah ibn Mas’ud, “Amal perbuatan apa yang paling disenangi Allah SWT?”, Rasullah menjawab: “Shalat pada waktunya”. Kemudian apa ? “berbakti kepada kedua orang tua.”, kembali ia bertanya “kemudian apa?, Beliau menjawab “jihad di jalan Allah”. (HR. Bukhari Muslim).
Seorang laki-laki dari Khats’am berkata bahwa ia menjumpai Rasulullah SAW. Kemudian ia bertanya “Wahai Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling disukai oleh Allah SWT.?, Beliau menjawab “beriman kepada Allah SWT.” dia kembali bertanya, kemudian apa?” Beliau menjawab “menyambung silaturahmi.” Dia kembali bertanya, wahai Rasulullah kemudian apa? , Beliau menjawab “kemudian mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran” (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya ada orang bertanya kepada Rasulullah; “Apakah amal yang paling utama ?” Beliau menjawab “ percaya kepada Allah dan rasul-Nya”, ia kembali bertanya, “sesudah itu apa lagi?, Beliau menjawab “jihad (berusaha keras atau berjuang) di jalan Allah”, ia kembai bertanya, sesudah itu apa lagi ya Rasulullah ?, Beliau menjawab “ haji yang mabrur.”
Contoh kedua, ketika Rasulullah SAW. memberikan jawaban terhadap masalah keutamaan seorang muslim; Dari Abu Musa, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, orang muslim yang bagaimanakah yang paling utama?, Beliau menjawab “yaitu orang yang tidak melukai kaum muslimin dengan lidah dan tangannya”. Sedangkan dari Abdullah ibn Umar, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, ya Rasulullah orang muslim yang bagaimanakah yang paling baik?, beliau menjawab “yaitu memberi makan (manusia) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal” (HR.Bukhari).
Untuk jawaban kepada orang pertama Rasulullah SAW. menyarankan untuk tidak menyakiti orang lain baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, hal ini disebabkan oleh kekhawatiran Rasulullah SAW. bahwa orang yang bertanya akan menyakiti orang lain, sedangkan kepada penanya kedua Rasulullah SAW. menyarankan untuk memberi makan orang dan mengucapkan salam, hal ini Beliau lakukan mengingat dua hal tersebut merupakan kebutuhan yang mendesak pada saat itu, karena masyarakat sedang berada dalam kesulitan dan kemiskinan dan juga untuk mempererat ikatan batin di antara mereka.[18]
Kondisi (keadaan) seseorang juga merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah. Terhadap pertanyaan yang sama dan tempat serta waktu sama Rasulullah memberikan jawaban yang berbeda, disebabkan karena kondisi seseorang. Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abdullah ibn ‘Amru ibn ‘Ash, ia berkata bahwa ketika ia bersama Nabi SAW. Datang seorang pemuda dan bertanya, wahai Rasulullah, bolehkah saya mencium istri saya sedangkan saya dalam keadaan puasa?, Beliau menjawab “tidak boleh”, kemudian datang seorang tua dan bertanya, Wahai Rasulullah, bolehkan saya mencium istri saya sedangkan saya dalam keadaan puasa?, Beliau menjawab “ boleh”. Maka kedua orang tadi (pemuda dan si tua) saling padang satu sama lain (dengan heran), melihat itu Rasulullah menjelaskan “ Aku memahami mengapa kalian saling pandang memandang. Karena orang yang sudah tua dapat menguasai nafsunya”
Pemberian nasihat Rasulullah SAW. seperti yang dikemukakan di atas, tentu saja dilakukan kepada perseorangan dan mungkin dalam waktu yang berbeda-beda, karena tidak mungkin hal ini dilakukan dalam keadaan jama’ah sedang berkumpul dalam suatu majelis, sebab jika jawaban berbeda-beda terhadap pertanyaan serupa yang diajukan oleh orang yang berbeda dalam suatu majelis akan menyebabkan kebingungan bagi penanya.
Dari cara-cara Nabi Muhammad SAW. menjawab pertanyaan seperti contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW. dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul sangat memperhatikan beberapa hal antara lain, kebutuhan si penanya, kecerdasan si penanya, suasana dan kondisi serta latar belakang munculnya sebuah pertanyaan tersebut, dan ketika Nabi menjawab pertanyaan ada target tertentu yang akan dicapai terhadap si penanya.
5. Bersikap Kepada Orang Lain Sesuai Dengan Karakternya
Setiap manusia dipastikan memiliki karakter yang berbeda, penduduk sebuah negeri tentu beda karakternya dengan penduduk negeri yang lain, perbedaan karakter yang dimiliki oleh setiap individu maupun kelompok sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW. memperlakukan orang-orang Arab yang datang dari dusun tidak sama dengan perlakuan beliau dengan shabat-sahabat beliau yang dididik oleh beliau sendiri. Beliau juga berusaha berbaik-baik terhadap orang yang masuk Islam, karena daerahnya dikalahkan oleh umat Islam, dan kepada kepala-kepala suku (dengan memberikan sebagian zakat kepada mereka), Jika Rasulullah SAW. mendapat tamu seorang tokoh suatu suku, maka beliau akan menghormatinya. Jika Rasulullah SAW. menghadapi orang bodoh atau jahat, maka beliau berusaha berbaik-baik kepadanya, dengan senyuman atau berbicara yang baik-baik tanpa berdusta atau memuji tanpa kebenaran, untuk menarik hatinya dan menghindarkan diri dari kejahatan.[19]
Para sahabatpun, beliau perlakukan sesuai dengan perangai masing- masing, seperti terdapat dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Mushili dari Ibnu Umar r.a., bahwa suatu ketika Rasulullah SAW. berada di tengah-tengah kami, beliau duduk dan ‘Aisyah duduk di belakangnya, ketika itu Abu Bakar minta izin masuk, lalu masuk. Kemudian Umar minta izin pula, lalu dia masuk, kemudian Usman ibn Affan izin masuk, lalu masuk. Di saat Usman masuk Rasulullah segera menarik baju beliau sehingga menutupi lutut beliau, setelah lutut Rasulullah tertutup, beliau bersabda kepada istrinya agar meninggalkan beliau, maka mereka melanjutkan pembicaraannya. Setelah mereka bubar, Aisyah bertanya :” Wahai Rasulullah, ketika sahabat sahabatmu masuk, engkau tidak memperbaiki letak bajumu dan tidak menyuruhku keluar, tetapi setelah Usman masuk engkau tutup lututmu dan menyuruhku keluar?, kemudian Rasulullah menjawab “ Sesungguhnya malaikat itu malu pada Usman, sebagai mana dia malu kepada Allah dan rasul-Nya”. Selanjutnya beliau menjelaskan; seandainya dia masuk, padahal engkau masih berada di dekatku, dia tak akan mengangkat kepalanya dan ia tidak akan bicara sepatahpun sampai ia keluar.[20]
Dari peristiwa Usman di atas nampak sekali bahwa Rasulullah SAW. sangat memahami karakter seseorang, kemudian beliau berperilaku sesuai dengan karakter orang tersebut, sehingga setiap orang yang berinteraksi dengan beliau merasa dihormati dan dihargai, hal ini sangat berpengaruh kepada jiwa seseorang, apabila ia sudah merasa tersanjung maka dengan sendirinya siap mental untuk menerima setiap nasihat dan pengajaran yang akan diberikan.
Penutup
Uswah hasanah pada diri Rasulullah SAW. bukan saja pada pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat dan sunah-sunah lainnya, akan tetapi Rasulullah sudah dipersiapkan oleh Allah SWT. untuk dicontoh dan ditauladani oleh seluruh umat manusia dalam segala hal, baik dalam pelaksanaan beribadah kepada Allah (habl min Allah) maupun pelaksanaan hubungan sesama manusia (habl min al-nas).
Dalam hal pendidikan, Rasulullah telah banyak memberikan pelajaran bagi para pendidik berkenaan dengan strategi dan metode pendidikan yang bisa diimplementasikan oleh para pendidik formal di sekolah maupun oleh orang tua di rumah yang memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Damsyiqi, al-Hanafi ibn Hamzah al-Husyain, Asbab al- Wurud (terj.), Jakarta: Kalam Mulia, 2003
Al-Mubarakfury, Syaikh Syafiyurrahman, Sirah Nabawiyah, (terj.), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003
Gulen, M. Fethullah, Versi Teladan; Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. (terj.), Jakarta: PT. Rosda Karya, 2002
Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad (terj.), Jakarta: PT. Mitra Kerjaya Indonesia, 2003
Hamalik, Umar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2003
Hamka, Lembaga Hidup, Jakarta: PT. Panjimas, 2001
..........., Tafsir Al-Azhar, Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1999, Juz X
Nasih Ulwan, Muhammad, Pendidikan Anak dalam Islam, Jakarta: Pustaka Amani, 1994
Qardhawi, Yusuf, Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta: Gema Insani Press, 1998
Rasyad, Aminuddin, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Uhamka Press, 2003
Surya, Muhammad, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004
Syahidin, Metode Pendidikan Qurani (Teori dan Aplikasi), Jakarta: Misaka Galiza, 1999
Zuhairimi, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1977



[1] Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Uhamka Press, 2003, h. 110
[2] Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan